22.55

Nabi dan Revolusi?

Diposting oleh Muhammad Zuhair Zahid

Perjuangan 25 orang Rasul Allah (yang konon berjumlah 313 orang) merupakan suatu kisah yang sering kita dengar. Bagaimana cerita-cerita tersebut menjadi dongeng pengantar tidur ataupun menjadi "ice breaking" para guru ngaji ketika selesai ngaji iqro' ataupun al-Qur'an. Cerita para Nabi yang menyeru pada kebenaran, cerita yang sering menonjolkan sisi kekuasaan Tuhan yang tak terbatas, mu'jizat menakjubkan dari masing-masing Rasul, perlawanan kaum durhaka dengan ditambah bumbu-bumbu dramatik lain.

Dari 25 Rasul, terdapat 5 Rasul yang disebut Ulul Azmi. Kelimanya adalah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad. Kelimanya merupakan Rasul yang terkenal dengan kesabarannya, sebgaimana disebutkan dalam al-Qur'an "Washbir Kama Shobaro Ulul Azmi Minar Rusul". Pernahkah kita sadari bahwa kisah kelima orang yang sering diakronimkan dengan NIMIM tersebut sebenarnya lebih dari bernilai teologis-dogmatis semata. Namun juga bersifat sosial-historis sebagai sebuah kisah perjuangan sosial. Kelimanya hidup dalam kondisi masyarakat yang jomplang dengan berbagai ketimpangan sosial yang terjadi. Kelimanya berusaha memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan (tentu saja) nilai moral yang kesemuanya berujung pada nilai teologis.

Nuh hidup dimasa dimana stratifikasi sosial mulai menyengsarakan hidup kaum marjinal yang berstatus sosial rendah. Dia berteriak berjuang mewujudkan persamaan dan nilai kemanusiaan, mengangkat tangan menentang penguasa-penguasa yang menginjak-nginjak harga diri kaum marjinal. Padahal status-status dan posisi sosial rendah yang menjadi alasan ditindasnya mereka tidak pernah diharapkan oleh seluruh manusia. Menurut al-Qur'an 950 tahun Nuh berjuang (entah ini merupakan metafora al-Qur'an tentang masa perjuangan Nuh atau umur manusia zaman dahulu memang sangat lama). Dan selama perjuangannya Nuh mendapat 80 pengikut yang kesemuannya dselamatkan Tuhan dari air bah yang menggulung wilayah kaumnya. Ibrahim hidup di masa kesewenang-wenangan Namrudz, raja Babilon yang sangat otoriter (untuk tidak menyebutnya sebagai tiran). Namrudz, seorang raja yang keji dan menganggap dirinya adalah yang berkuasa penuh terhadap hidup kaumnya. Ini dibuktikan dengan kesanggupannya membunuh seorang tahanan demi menunjukkan bahwa ia mampu mematikan orang. Namrudz juga merupakan Raja yang menggunakan agama berhalanya untuk memasung kebebasan berpikir di kalangan rakyatnya. Terbukti bagaimana ia memakai argumentasi teologis sebagai alasan untuk membakar Ibrahim. Ibrahim berjuang melawan raja ini dan melarikan diri dari wilayahnya untuk kemudian berpindah ke frame cerita seputar perjanjian Ibrahim, kelahiran Ishaq dan pengorbanan Ismail.

Musa mungkin adalah tokoh yang paling heroik dari kelima Rasul tersebut. Hampir sama dengan Ibrahim, Musa berjuang melawan Firaun sang penguasa Mesir (yang menurut data sejarah merujuk pada Ramses II). Bagaimana sang Firaun adalah seorang gila hormat. Raja ini adalah Raja yang memakai isu rasial untuk menindas bangsa lain. Ia menggunakan tenaga Bani Israil yang kala itu mempunyai satus sosial lebih rendah dari bangsa asli Mesir (Qibthiyyah) sebagai budak. Ia menggunakan argumen ini untuk membunuh bayi laki-laki bangsa Israel, memperlakukan mereka dengan tidak adil, dan menolak melepaskan mereka ketika Musa berinisiatif meminta Firaun membiarkan kaumnya pergi bersamanya. Menurut Perjanjian Lama, Firaun akhirnya merelakan mereka pergi setelah Tuhan ikut campur tangan dengan mengirim nyamuk, penyakit, katak, membunuh anak pertama kaum Mesir, dan merubah air sungai Nil menjadi darah. Namun di endingnya Firaun yang tidak mau kehilangan status quo nya berubah pikiran dan mengejar mereka. Jalan cerita selanjutnya tentu sudah diketahui dari cerita Al-Qur'an dan Perjanjian Lama. Berpindah frame menuju cerita pencarian identitas dan jati diri Israel; bahwa Israel diselamatkan, Tuhan mengambil perjanjian dengan mereka, turunnya sepuluh perintah Tuhan dan seterusnya.

Sementara Isa hidup di masa penjajahan Romawi atas daerah Tanah Suci, khususnya Betlehem (bhs Ibrani; betel=rumah Tuhan). Isa berjuang melawan komersialisasi Rumah Ibadah yang dilakukan kaum peminta sedekah dari kalangan Yahudi (Farisi atau Saduki ya?lupa). Ia juga berusaha menyuarakan kondisi real masyarakatnya yang sebagian besar miskin, menyadarkan masyarakat Yahudi yang terlena dan merasa seolah tidak sedang dijajah (minus beberapa golongan gerilyawan yang tetap melakukan aksi perlawanan terhadap imperialisme Romawi kala itu), dan mencoba melawan hedonisme yang kala itu menghegemoni masyarakat Yahudi dan Romawi di wilayah Tanah Suci. Ia lebih memakai bentuk perjuangan moral daripada berhadapan vis a avis penguasanya. Bagaimana akhirnya gerakan moralnya bisa merebut hati ribuan massa dan dianggap berbahaya oleh kaum penguasa Romawi, khususnya gubernur di wilayah tersebut. Akhir ceritanya bercabang menurut al-Qur'an dan cerita biblikal. Al-Qur'an menyebut bahwa Isa diselamatkan dan diangkat oleh Tuhan, sementara Bible menunjukkan bahwa Isa disalib, mati di tiang salib untuk kemudian dibangkitkan kembali.

 Ulul Azmi terakhir adalah Muhammad, yang dianggap sebagai tokoh paling berpengaruh dalam perubahan dunia oleh Michael H. Hart. Ia hidup dari kalangan bangsawan miskin dengan status sosial tinggi yang kecewa dengan ketidak adilan yang terjadi di Makkah yang ketika itu memakai sistem kekuasaan Suku. Ia akhirnya bangkit memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan persamaan bagi seluruh manusia, khususnya di wilayah Makkah. Bagaimana ia memproklamirkan diri sebagai Nabi, menyerukan pemenuhan hak-hak kemanusiaan oleh warga Makkah, pemenuhan hak perempuan dan budak, menyeru pada perlunya dilaksanakan revolusi teologis dari polytheisme menuju monotheisme, menyerukan revolusi besar di bidang moral dan seterusnya. Selama 13 tahun ia ditentang oleh kaumnya terutama dari kalangan bangsawan yang menganggap sitem sosial baru yang ditawarkan Muhammad yang menetapkan stratifikasi lunak dan menjamin pemenuhan hak-hak kaum marjinal merupakan sistem yang sama sekali tidak menguntungkan mereka dan bahkan akan menurunkan status sosial mereka. Mereka yang tidak mau melepas status Quo nya akhirnya menentang Muhammad habis-habisan yang akhirnya gagal, hal ini mungkin disebabkan status sosial Muhammad yang berasal dari salah satu suku berpengaruh di Makkah. Bahkan pernah Muhammad dan pengikutnya dikucilkan dan diisolasi dari sumber pangan dan komunikasi dengan dunia luar selama 3 tahun. Muhammad hijrah ke Madinah dan memulai satu gerakan baru disana. Dengan kekuasaan yang ia miliki di sana, ia mulai bisa mempergunakan kekuatan militer untuk berusaha mewujudkan cita-citanya dan menciptakan persamaan, keadilan dan terlaksananya nilai kemanusiaan yang lebih adil bagi peradaban. Ia menjawab tantangan negara Makkah dengan beberapa konfrontasi fisik (perang Badar, Uhud, Khandaq) dan cara diplomatik (perjanjian Hudaibiyah). Kemudian ia membebaskab Makkah dari kekuasaan kaumnya dan menjadikan Madinah sebagai pusat peradaban dan pemerintahannya untuk kemudian mengajarkan ajarannya ke seluruh dunia.

 Kelima Rasul tersebut melaksanakan revolusi sosial yeng berbeda-beda. Akan tetapi ada benang merah yang dapat ditarik dari kelima kisah mereka. Pertama, mereka adalah pejuang kemanusiaan yang mengedepankan humanitas, liberalitas dan freternitas sebagai nilai dasar perjuangannya (disamping tentu saja nilai teologis; monoteisme). Kedua, mereka tidaklah nyaman dengan kemapanan yang menyengsarakan salah satu komponen masyarakatnya walaupaun secara sosial mereka bisa saja diuntungkan dengan kondisi sosial yang ada. Ketiga mereka tidaklah takut dengan penguasa dikarenakan komitmen pada nilai-nilai teologis dan nilai-nilai humanis yang mereka yakini kebenarannya. Kelima, mereka mau dan berani keluar dari lingkaran pusat, baik itu wacana, ide maupun pemikiran yang sedang menguasai dan menghegemoni wilayahnya dan mendirikan satu payung pemikiran baru yang seringkali keluar dari mainstream yang ada. Mereka berusaha membebaskan diri dari kungkungan hegemoni di masanya. Berusaha menarik diri dan keluar dari arus pusat. Stigma kiri tentu akan dicap pada mereka. Namun bukan berarti mereka anti kemapanan, namun mereka menentang pemapanan nilai-nilai yang berujung pada usaha pemapanan status

11.26

Islamisasi Ilmu & Pengilmuan Islam, Pilih Mana?

Diposting oleh Muhammad Zuhair Zahid




‎ A. Peradaban Barat dan ‎Hegemoni Epistemologi

Peradaban Barat telah ‎menjadikan ilmu sebagai ‎problematis. Westernisasi ilmu ‎telah menjadikan keraguan ‎sebagai alat epistemologi yang ‎sah dalam keilmuan, menolak ‎wahyu dan kepercayaan agama ‎dalam ruang lingkup keilmuan ‎dan menjadikan spekulasi ‎filosofis yang terkait dengan ‎kehidupan sekular yang ‎memusatkan manusia sebagai ‎makhluk rasional sebagai basis ‎keilmuan. Akibatnya, peradaban ‎Barat telah menghasilkan ilmu ‎pengetahuan dan nilai-nilai etika ‎dan moral, yang diatur oleh rasio ‎manusia, yang terus menerus ‎berubah.‎

Ilmu pengetahuan modern yang ‎dikembangkan Barat dibangun ‎atas dasar kegiatan empiris dan ‎rasionalitas serta menolak intuisi. ‎Antara rasionalitas dan kegiatan ‎empiris memang dapat dibedakan ‎secara definitif berdasarkan cara ‎kerjanya. Namun pada tataran ‎praksis, dua hal tersebut ‎keduanya tidak dapat dipisahkan ‎secara waktu dan cara kerjanya ‎dikarenakan ada dua ‎kemungkinanan, rasio terlebih ‎dahulu dan panca indra mengikuti ‎atau sebaliknya.‎
Sedang intuisi adalah perasaan ‎yang telah tersadarkan, yang ‎mampu mengintegrasikan antara ‎subjek dan objek. Ia merupakan ‎akal (intelek/analitis) yang lebih ‎tinggi yang mampu memahami ‎apa yang tidak difahami akal ‎dengan bertumpu pada ‎pengalaman batin, mental, ‎emosional dan spiritual.‎

Penolakan terhadap intuisi ini ‎membuat ilmu pengetahuan ‎modern ala Barat bersifat ‎materiil. Sehingga tepat jika ‎sampai Syed Muhammad Naquib ‎al-Attas menyimpulkan ilmu ‎pengetahuan modern yang ‎dibangun di atas visi intelektual ‎dan psikologis budaya dan ‎peradaban Barat dijiwai oleh 5 ‎faktor: (1) akal diandalkan untuk ‎membimbing kehidupan manusia; ‎‎(2) bersikap dualistik terhadap ‎realitas dan kebenaran; (3) ‎menegaskan aspek eksistensi ‎yang memproyeksikan ‎pandangan hidup sekuler; (4) ‎membela doktrin humanisme ‎semu; (5) menjadikan drama dan ‎tragedi sebagai unsur-unsur yang ‎dominan dalam fitrah dan ‎eksistensi kemanusiaan.‎

Namun tetap saja ada persamaan ‎antara Islam dengan filsafat dan ‎sains modern yaitu menyangkut ‎sumber dan metode ilmu, ‎kesatuan cara mengetahui secara ‎nalar dan empiris, kombinasi ‎realisme, idealisme dan ‎pragmatisme sebagai fondasi ‎kognitif bagi filsafat sains; proses ‎dan filsafat sains. Walaupun ‎sama, tapi tetap ada perbedaan ‎mendasar dalam pandangan ‎hidup (divergent worldviews) ‎mengenai realitas akhir. Dalam ‎Islam, wahyu merupakan sumber ‎ilmu tentang realitas dan ‎kebenaran akhir berkenaan ‎dengan makhluk ciptaan dan ‎Pencipta. Wahyu adalah dasar ‎kerangka metafisis untuk ‎mengupas filsafat sains sebagai ‎sebuah sistem yang ‎menggambarkan realitas dan ‎kebenaran dari sudat pandang ‎rasionalisme dan empirisesme. ‎Tanpa wahyu, ilmu sains ‎dianggap satu-satunya ‎pengetahuan yang otentik ‎‎(science is the sole authentic ‎knowledge). dan hanya terkait ‎dengan fenomena. Akibatnya, ‎kesimpulan kepada fenomena ‎akan selalu relatif dan berubah ‎sesuai dengan perkembangan ‎zaman.‎

Nilai-nilai yang ada dalam Islam ‎adalah sepanjang masa. Jadi, ‎Islam memiliki pandangan-hidup ‎mutlaknya sendiri, merangkumi ‎persoalan ketuhanan, kenabian, ‎kebenaran, alam semesta dll. ‎Islam memiliki penafsiran ‎ontologis, kosmologis dan ‎psikologis tersendiri terhadap ‎hakikat. Islam menolak ide ‎dekonsekrasi nilai karena ‎merelatifkan semua sistem ‎akhlak.‎

Pandangan Barat tentang ‎moralitas dan akhlak sendiri ‎sangat berbeda. Ambil contoh ‎Sigmund Freud dengan teori ‎bawah sadar dan super egonya. ‎Beliau berpendapat bahwa suara ‎hati, moralitas dan akhlaq tidak ‎lain hanya superimposisi zalim ‎yang berdasarkan dorongan ‎instinktual manusia. Implikasinya ‎adalah bagi Freud agama ‎hanyalah sebuah ilusi.‎

Perbedaan-perbedaan tentang ‎cara memandang intuisi dan ‎moralitas inilah yang berimplikasi ‎pada perbedaan mendasar Barat ‎dan Islam dalam hal ilmu ‎pengetahuan. Sikap relativitas ‎dan anti humanitas ilmu ‎pengetahuan Barat yang ‎ditimbulkan oleh 2 hal tersebut ‎membuat ilmu pengetahuan ‎seolah murni bebas nilai dengan ‎memakai jargon science for ‎science.‎

Penampilan Barat yang dominatif, ‎superior, sudah mengharu-biru ‎hingga pada aspek pendidikan ‎dan kognitif kita. Pandangan ‎epistemologi Barat yang bersifat ‎sekularistik tidak dapat ‎dibendung. Ia masuk ke dalam ‎pendidikan kita dari tingkat TK ‎sampai perguruan tinggi. Efek ‎totalnya ialah kita tidak tahu ‎khazanah keilmuan sendiri, ‎termasuk di dalamnya ‎epistemologi Islam yang ‎mengandung elemen spiritualitas, ‎tak hanya unsur rasionalitas ‎ataupun empirisitas. Pada sisi ‎lain solusi guna menahan ‎gelombang “Hellenisme modern” ‎ini pun lebih banyak merujuk ‎pada sumber asing ketimbang ‎sumber Islam. Padahal yang ‎harus ditolak dari Barat adalah ‎yang tidak sesuai saja, bukan ‎seluruhnya, berdasarkan kaidah ‎ushuliyyah, “Al-Muhafazhah ‘ala ‎al-qad‎im al-shalih wa al-akhdzu ‎bi al-jad‎d al ashlah” ‎‎(mempertahankan tradisi lama ‎yang baik dan mengambil tradisi ‎baru yang lebih baik), tetapi ‎dengan tetap mempertimbangkan ‎‎“Dar’u al-mafasid awla min jalb ‎al-ashalih” (menghindari ‎kerusakan lebih utama daripada ‎meraih manfaat). Dalam dunia ‎falsafah Islam madzhab ‎Masysya’iyyah (Peripatetik) -‎dengan para tokoh failasufnya al-‎Kind‎i (Faylasuf al- Awwal), al-‎Farabi‎ (al-Mu‘allim al-Tsani‎), Ibn ‎Si‎na (al-Syaykh al-Ra’‎is) dan ‎seterusnya- merupakan bukti ‎keterpengaruhan Islam oleh ‎Aristoteles, sementara ‎Isyraqiyyah (Illuminasi) -Syihab ‎al-Di‎n Suhraward‎i (Syaykh al-‎Isyraq, Syaykh al-Maqtul), Ibn ‎‎‘Arabi‎ (Muhy‎ al-D‎in, Syaykh al-‎Akbar, Khatam al-Awliya’), ‎Khwajah Nash‎r al-Di‎n al-Thus‎, ‎Mulla Shadra (Shadr al-‎Muta‘allih) dan lain-lain- ‎cenderung pada konsepsi Plato, ‎yang semua fakta tentang ‎failasuf ini menjelaskan manfaat ‎unsur asing terhadap kehidupan ‎internal umat Islam.‎

B. Epistemologi Islam

Ilmu dalam Peradaban Barat ‎telah mengangkat keraguan dan ‎dugaan ke tahap metodologi ‎ilmiah. Epistemologi Barat telah ‎menguasai seluruh metodologi ‎keilmuan yang ada. Dengan ‎westernisasinya, paradigma ‎keilmuan Barat akhirnya ‎mendominasi dan dijadikan ‎sebuah tolok ukur suatu ‎keilmiahan.‎

Bagaimana dengan Islam ? Dalam ‎khazanah intelektual saat ini, tak ‎jarang ditemui kritik yang ‎dilontarkan oleh sebagian orang ‎terhadap Islam. Bahwasanya ‎epistemologi Islam saat ini ‎sangat lemah. Komentar di atas ‎sangat ironis jika dilihat dari ‎realitas sejarah peradaban dunia, ‎justru Islamlah yang pertama kali ‎mencoba memajukan ‎pengetahuan. Dalam catatan ‎sejarah sulit ditemukan fakta ‎historis -rentang waktu dari ‎Sebelum Masehi hingga abad 8/9 ‎Masehi- sebuah agama, ideologi, ‎apalagi isme yang mampu ‎menyebarkan pengetahuan ‎secara lintas daerah dan negara, ‎atau bahkan internasional (tidak ‎parokial), selain Islam.‎

Banyak diantaranya ilmu-ilmu ‎pengetahuan yang ‎dikembangkan: ilmu-ilmu ‎eksakta; fisika, kimia, berhitung, ‎astronomi, geografi dan ‎sebagainya, ilmu-ilmu sosial; ‎seperti sejarah, sosiologi, kalam ‎dan seterusnya, hingga ilmu-ilmu ‎metafisik; sejenis falsafah, ‎tasawuf, tarekat. Melihat fakta ‎ini, bagaimana mungkin Islam ‎dikatakan kosong dari konsep ‎epistemologi? Dan justru dunia ‎Barat yang baru saja muncul ke ‎permukaan dalam pengetahuan ‎sudah dibilang memiliki ‎epistemologi tinggi.‎

Jika ditinjau dari segi “pengaruh-‎mempengaruhi”, kasus Yunani-‎Islam mempunyai kesamaan ‎dengan kasus antara Islam-Barat. ‎Barat, melanjutkan tradisi ilmu ‎setelah saling bersentuhan. Dan ‎anehnya, Islam selalu diposisikan ‎dalam tingkat terendah. Dari sini ‎dapat ditarik sebuah pokok ‎permasalahan, sejarah dapat ‎ditaklukkan oleh kekinian. ‎Walhasil, negara-negara non-‎Barat tersebut jatuh pada ‎penilaian bahwa Barat muncul ‎sebagai perintis ilmu ‎pengetahuan. Konsepsi ‎kesinambungan ilmu sirna; ‎seakan ilmu pengetahuan tidak ‎memiliki kesinambungan dari ‎masa-masa sebelumnya, seakan ‎Barat bisa hidup dan berjalan ‎tanpa Islam. Akibatnya, ‎sumbangan Islam terhadap ‎pengetahuan tidak ‎diperhitungkan biarpun muncul ‎lebih awal daripada Barat.‎

C. Sumber Ilmu dalam Islam

Menurut Adnin Armas, dalam ‎pandangan Islam, ilmu adalah ‎mungkin. Jadi, pemikiran ‎skeptisisme, relatifisme, ‎agnotisisme tidaklah tepat. Selain ‎itu, ilmu dalam Islam tidak ‎terlepas dari Wahyu. Ini ‎disebabkan ilmu pengetahuan ‎berasal dari Tuhan, dan diraih ‎melalui saluran-saluran sebagai ‎berikut:‎

I. Panca indera (hawass):‎

‎    i. Panca indera eksternal: ‎sentuhan (touch), penciuman ‎‎(smell), rasa (taste),‎
‎       penglihatan (sight) dan ‎pendengaran (hearing)‎
‎    ii. Panca indera internal: akal ‎sehat (common sense), ‎representasi (representation), ‎estimasi
‎       (estimation), retention ‎‎(retensi), rekoleksi (recollection) ‎dan khayalan (imagination).‎

II. Riwayat benar (khabar sadiq) ‎berdasar kepada otoritas (naql):‎
‎    i. otoritas mutlak (absolute ‎authority)‎
‎        a. otoritas Tuhan (divine ‎authority) seperti al-Quran
‎        b. otoritas kenabian ‎‎(prophetic authority), yaitu Nabi‎
‎    ii. otoritas relatif
‎        a. ijma para ulama (tawatur)‎
‎        b. riwayat orang-orang yang ‎amanah secara umum
III. Intelek (aql)‎
‎        i. akal sehat (ratio)‎
‎        ii. intuisi (hads, wijdan).‎

Paparan Adnin di atas ‎menunjukkan perbedaan antara ‎epistemologi Islam dan Barat ‎terletak pada dimensi ‎spiritualitas yang terletak pada ‎saluran imajinasi dan intuisi ‎sehingga perlu disinggung sedikit ‎tentang dimensi spiritualitas ‎Islam.‎

Dalam bahasa Arab kata ‎spiritualitas adalah ruhaniyyah ‎atau ruhiyyah. Kedua kata ‎tersebut berakar-kata dari ruh. ‎Al-Quran menyebut kata ruh 21 ‎kali dalam surat berbeda, dan ‎seluruhnya bermakna wahyu ‎Tuhan. Salah satu ayat secara ‎tegas memiliki konsepsi ruh ‎sebagai wahyu Tuhan, termaktub ‎dalam QS. al-Isra’/17: 85, [Dan ‎mereka bertanya padamu ihwal ‎wahyu Tuhan. Katakanlah, ‎‎“Wahyu ini dari Tuhanmu, dan ‎kamu semata-mata diberikan ‎pengetahuan amatlah sedikit”]. ‎Mayoritas mufassir ‎menginterpretasi kata ruh di situ ‎adalah wahyu Tuhan. Sementara ‎digandengkannya term ruh dan ‎ilmu menunjukkan jalinan erat ‎antara wahyu Tuhan dan ‎pengetahuan. Dengan alasan ‎inilah bagi epistemologi Islam, ‎wahyu merupakan salah satu ‎sumber pengetahuan, yakni ‎pengetahuan datang dari Tuhan. ‎Ini mengakibatkan macam-‎macam pengetahuan dalam Islam ‎terbagi dalam: 1) panca-indera ‎‎(empirisme), 2) akal ‎‎(rasionalisme) dan 3) ‎intuisi/wahyu (revelasionisme). ‎Jenis ketiga merupakan ilmu ‎pengetahuan yang diberikan ‎kepada para nabi an sich, tetapi ‎dalam pandangan failasuf ‎pengetahuan tersebut diperoleh ‎para nabi lantaran mereka ‎memiliki akal-perolehan (al-‘aql ‎al-mustafad, acquired intellect) di ‎luar rata-rata manusia umumnya.‎

Dapat ditarik suatu sintesis, ‎bahwa perspektif epistemologi ‎Islam mengandung: 1) sumber ‎pengetahuan, yang salah satunya ‎adalah wahyu, dan 2) ilmu harus ‎bertujuan pada yang ruhaniah, ‎dalam arti menghidupkan ‎kesadaran bertuhan. Jika kedua ‎butir ini ternyata tidak dimiliki ‎oleh mereka yang berilmu, apa ‎penyebabnya? Bahasa al-Qur’an ‎menggunakan istilah kufr, kafara, ‎kafir berarti “menolak”, yaitu ‎menolak kebenaran yang telah ia ‎akui sebagai kebenaran.‎

Berangkat dari kerangka berfikir ‎Adnin Armas di atas, bahasan ‎tentang sains Islam dapat ‎dikembangkan lebih lanjut.‎

D. Sains Islam?‎

Gagasan “sains Islam” sudah ‎berada di percaturan intelektual ‎Islam selama lebih dari 20 tahun, ‎di berbagai belahan dunia ‎Muslim, termasuk Indonesia. ‎Salah satu tujuan “penciptaan” ‎epistemologi Islam adalah untuk ‎‎“membangun sains yang berdaya ‎guna bagi kehidupan manusia ‎dan kemanusiaan.” Sains Barat ‎modern didasarkan pada ‎epistemologi Barat, maka ‎epistemologi Islam—yang ‎keberadaannya sulit dipungkiri—‎sudah sewajarnyalah mampu ‎melahirkan sains yang Islami.‎

Di sini, epistemologi dianggap ‎sebagai dasar sains; epistemologi ‎memiliki prioritas (yaitu, ‎keterdahuluan) baik secara ‎konseptual maupun temporal. ‎Namun sejarah sains, baik di ‎Barat mapun Islam, menunjukkan ‎bahwa kaitan epistemologi ‎dengan sains tak serapi itu. ‎Kaitan yang rapi hanya muncul ‎dalam rekonstruksi rasional atas ‎sejarah, yang tak mesti mewakili ‎gerak sejarah yang sebenarnya. ‎Nyatanya, sains kerap memiliki ‎dinamikanya sendiri. Sains ‎berkembang bukan karena ‎epistemologi yang baik, tapi ‎justru epistemologi kerap dipaksa ‎menyesuaikan diri dengan ‎temuan-temuan -dan kegagalan-‎kegagalan- sains.‎

Ada dua hal yang perlu kita ‎fahami jika kita berangkat dari ‎‎“penciptaan” epistemologi Islam ‎menuju sains Islam. Yang ‎pertama adalah Islamisasi Ilmu ‎dan yang kedua adalah ‎Pengilmuan Islam.‎

E. Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan modern yang ‎saat ini dihasilkan oleh ‎peradaban Barat tidak serta-‎merta harus diterapkan di dunia ‎Muslim. Sebabnya, ilmu bukan ‎bebas-nilai (value-free), tetapi ‎sarat nilai (value laden). Ilmu ‎bisa dijadikan alat yang sangat ‎halus dan tajam bagi ‎menyebarluaskan cara dan ‎pandangan hidup sesuatu ‎kebudayaan.‎

Dengan mendiagnosa virus yang ‎terkandung dalam westernisasi ‎ilmu, Syed Muhammad Naquib al-‎Attas mencoba mengobatinya ‎dengan Islamisasi ilmu. ‎Alasannya, tantangan terbesar ‎yang dihadapi kaum Muslimin ‎adalah ilmu pengetahuan modern ‎yang tidak netral dan telah ‎diinfus ke dalam praduga-‎praduga agama, budaya dan ‎filosofis, yang sebenarnya berasal ‎dari refleksi kesadaran dan ‎pengalaman manusia Barat.‎
Jadi, ilmu pengetahuan modern ‎harus diislamkan. Mengislamkan ‎ilmu bukanlah pekerjaan mudah ‎seperti labelisasi. Selain itu, tidak ‎semua dari Barat berarti ditolak. ‎Sebabnya, terdapat sejumlah ‎persamaan antara Islam dan ‎filsafat dan sains Barat. Oleh ‎sebab itu, seseorang yang ‎mengislamkan ilmu, ia perlu ‎memenuhi pra-syarat, yaitu ia ‎harus mampu mengidentifikasi ‎pandangan-hidup Islam (the ‎Islamic worldview) sekaligus ‎mampu memahami budaya dan ‎peradaban Barat. Pandangan-‎hidup dalam Islam adalah visi ‎mengenai realitas dan kebenaran ‎‎(the vision of reality and truth).‎

Realitas dan kebenaran dalam ‎Islam bukanlah semata-mata ‎fikiran tentang alam fisik dan ‎keterlibatan manusia dalam ‎sejarah, sosial, politik dan budaya ‎sebagaimana yang ada di dalam ‎konsep Barat sekular mengenai ‎dunia, yang dibatasi kepada ‎dunia yang dapat dilihat. Realitas ‎dan kebenaran dimaknai ‎berdasarkan kajian kepada ‎metafisika terhadap dunia yang ‎nampak dan tidak nampak. Jadi, ‎pandangan-hidup Islam ‎mencakup dunia dan akhirat, ‎yang mana aspek dunia harus ‎dihubungkan dengan cara yang ‎sangat mendalam kepada aspek ‎akhirat, dan aspek akhirat ‎memiliki signifikansi yang ‎terakhir dan final.‎

Setelah mengetahui secara ‎mendalam mengenai pandangan-‎hidup Islam dan Barat, maka ‎proses Islamisasi baru bisa ‎dilakukan. Sebabnya, Islamisasi ‎ilmu pengetahuan saat ini (the ‎Islamization of present-day ‎knowledge), melibatkan proses ‎yang saling terkait, yaitu :‎

Mengisolir unsur-unsur dan ‎konsep-konsep kunci membentuk ‎budaya dan peradaban Barat ‎‎(unsur yang telah disebutkan ‎sebelumnya), dari setiap bidang ‎ilmu pengetahuan modern saat ‎ini, khususnya dalam ilmu ‎pengetahuan humaniora. ‎Bagaimanapun, ilmu-ilmu alam, ‎fisika dan aplikasi harus ‎diislamkan juga khususnya dalam ‎penafsiran-penafsiran akan ‎fakta-fakta dan dalam formulasi ‎teoriteori. Selain itu, ilmu-ilmu ‎modern harus diperiksa dengan ‎teliti. Ini mencakup metode, ‎konsep, praduga, simbol, dari ‎ilmu modern; beserta aspek-‎aspek empiris dan rasional, dan ‎yang berdampak kepada nilai dan ‎etika; penafsiran historisitas ilmu ‎tersebut, bangunan teori ilmunya, ‎praduganya berkaitan dengan ‎dunia, dan rasionalitas proses-‎proses ilmiah, teori ilmu tersebut ‎tentang alam semesta, ‎klasifikasinya, batasannya, ‎hubung kaitnya dengan ilmu-ilmu ‎lainnya serta hubungannya ‎dengan sosial harus diperiksa ‎dengan teliti.‎
memasukkan unsur-unsur Islam ‎beserta konsep-konsep kunci ‎dalam setiap bidang dari ilmu ‎pengetahuan saat ini yang ‎relevan. Jika kedua proses ‎tersebut selesai dilakukan, maka ‎Islamisasi akan membebaskan ‎manusia dari mitologi, animisme, ‎tradisi budaya nasional yang ‎bertentangan dengan Islam, dan ‎kemudian dari kontrol sekular ‎kepada akal dan bahasanya. ‎Islamisasi akan membebaskan ‎akal manusia dari keraguan) ‎dugaan dan argumentasi kosong ‎menuju keyakinan akan ‎kebenaran mengenai realitas ‎spiritual, intelligible dan materi. ‎Islamisasi akan mengeluarkan ‎penafsiran-penafsiran ilmu ‎pengetahuan kontemporer dari ‎ideologi, makna dan ungkapan ‎sekular.‎

F. Pengilmuan Islam

Secara harfiah, frasa “pengilmuan ‎Islam” berarti menjadikan Islam ‎sebagai ilmu. Dari sini saja bisa ‎muncul banyak pertanyaan. ‎Pertama, perlu diperhatikan ‎bahwa ia tak hanya berbicara ‎mengenai Islam sebagai sumber ‎ilmu, atau etika Islam sebagai ‎panduan penerapan ilmu, ‎misalnya. Tapi Islam itu sendiri ‎yang merupakan ilmu. Dengan ‎‎“pengilmuan Islam”, yang ingin ‎ditujunya adalah aspek ‎universalitas klaim Islam sebagai ‎rahmat bagi alam semesta --‎bukan hanya bagi pribadi-pribadi ‎atau masyarakat Muslim, tapi ‎semua orang; bahkan setiap ‎makhluk di alam semesta ini. ‎‎“Rahmat bagi alam semesta” ‎adalah tujuan akhir pengilmuan ‎Islam. Rahmat itu dijanjikan ‎bukan hanya untuk Muslim tapi ‎untuk semuanya. Tugas Muslim ‎adalah mewujudkannya; ‎pengilmuan Islam adalah ‎caranya. Secara lebih spesifik, ‎Islam di-ilmu-kan dengan cara ‎mengobjektifkannya.‎

Satu cara untuk memahami gerak ‎‎“pengilmuan Islam” adalah ‎dengan memperhatikan ‎periodisasi sistem pengetahuan ‎Muslim yang dibuat Kuntowijoyo. ‎Periodisasi penting untuk ‎memahami apa yang akan ‎dikerjakan pada suatu periode ‎tertentu. Keputusan baik yang ‎diambil di suatu periode belum ‎tentu akan bermanfaat di periode ‎yang lain. Dalam periodisasi ini, ‎umat Islam bergerak dari periode ‎pemahaman Islam sebagai mitos, ‎lalu sebagai ideologi, dan terakhir ‎sebagai ilmu .‎

Pada periode pertama, Islam ‎dipahami lebih sebagai mitos; ‎sebagai sesuatu yang sudah ‎selesai dan tinggal perlu ‎dipertahankan, dijaga ‎kemurniannya dari campuran-‎campuran non-islami, dan jika ‎perlu dipertahankan dari ‎serangan pihak luar, dimana ‎tradisi ini biasanya bersifat ‎deklaratif atau apologetis.‎

Islam sebagai ideologi sudah ‎bersifat lebih rasional, tapi masih ‎terlalu apriori/nonlogis. Di sini ‎Islam ditampilkan sebagai ‎ideologi tandingan bagi ideologi-‎ideologi dunia seperti kapitalisme ‎dan komunisme. Dalam bidang ‎politik, ciri utama gerakan ini ‎adalah berdirinya organisasi-‎organisasi politik, dan ditandai ‎dengan gagasan pembentukan ‎Negara Islam. Islam eksis hanya ‎jika ia eksis secara institusional-‎formal. Karena itu, ketika di ‎Indonesia semua ormas ‎diharuskan berasas Pancasila, ini ‎dipahami sebagai upaya de-‎islamisasi. Padahal, ini juga bisa ‎dilihat sebagai isyarat bahwa ‎Islam perlu memasuki babak ‎baru, yaitu periode Islam sebagai ‎ilmu.‎

Dalam periode ilmu, yang ‎diperlukan adalah objektifikasi ‎Islam. Untuk mengambil contoh ‎aktifitas dalam periode ini di ‎bidang politik, yaitu para ‎founding fathers Indonesia yang ‎Muslim, menghapuskan tujuh ‎kata dari Piagam Jakarta amat ‎berat dilakukan, namun toh ‎akhirnya dilakukan juga. ‎Keputusan yang sama beratnya ‎mesti diambil ketika pada masa ‎Orde Baru terjadi marjinalisasi ‎keterlibatan politik Muslim.‎

Dengan langkah-langkah ‎tersebut, nilai-nilai Islami ‎menjadi sesuatu yang bisa ‎diterima orang, Muslim ataupun ‎non-Muslim, karena kebaikan ‎nilai-nilai itu sendiri, bukan ‎karena nilai-nilai itu disebut ‎‎“Islami”. Dengan cara ini, Islam ‎menjadi rahmat untuk alam ‎semesta.‎

G. Pilih yang Mana?‎

Dua hal di atas menjadi suatu ‎kontradiksi. Islamisasi Ilmu ‎adalah menjadikan suatu ilmu ‎menjadi subjektif dan ‎menyeretnya ke dalam lingkaran ‎nilai (?) Islam. Hal yang sangat ‎sesuai jika kita memakai diktum ‎ilmu taut nilai. Dengan Islamisasi ‎Ilmu, maka yang terjadi adalah ‎proses pemurnian ilmu dari ‎westernian yang ia miliki, dengan ‎tetap mempertahankan proses ‎yang dianggap sesuai dengan ‎epistemologi Islam.‎

Sementara objektifitas ilmu yang ‎dituntut oleh Kuntowijoyo lewat ‎pengilmuan Islamnya membuat ‎baju dan atribut Islam yang ‎melekat pada sistem, siyasiyah, ‎dan objek lain harus dilepaskan. ‎Nilai Islam menjadi baik bukan ‎karena atribut Islamnya, akan ‎tetapi karena kebaikan nilai itu ‎sendiri. Ilmu pun dilepaskan dari ‎label Islam, namun Islamlah yang ‎ditarik dalam lingkaran keilmuan, ‎sehingga kebaikan yang ‎ditimbulkan oleh ilmu bukan ‎karena label Islamnya, namun ‎karena disesuaikannya Ilmu ‎dengan nilai-nilai keIslaman.‎

Paradigma apa yang diambil jelas ‎akan bersifat subjektif. Apakah ‎subjektifitas Islamisasi Ilmu atau ‎objektifitas pengilmuan Islam ‎yang ingin dipakai tergantung ‎dari bagaimana kita ‎mengembangkan wacana dan ‎dialektika mengenai hal tersebut. ‎Bahkan mungkin dalam waktu ke ‎depan, akan muncul teori baru ‎yang merupakan perpaduan ‎maupun integrasi dari keduanya.‎

Sumber Bacaan :‎

Rosadisastra, Andi, 2007, Metode ‎Tafsir Ayat-Ayat Sains dan Sosial, ‎Jakarta : Amzah
Nasution, Hidayat, 2007, Mukjizat ‎Al-Qur’an versus Tahayul Iptek, ‎Depok : Intuisi Press
Hanafi, Hasan, 2007, “Ambiguitas ‎Pemikiran Ibnu Rusyd”, dalam ‎Ibnu Rusyd, Gerbang Pencerahan ‎Timur dan Barat, Zuhairi Miswari ‎‎(Ed), Jakarta : P3M‎
Badaruddin, Kemas, 2007, ‎Filsafat Pendidikan Islam, ‎Analisis Pemikiran al-Attas, ‎Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Haque, Israrul, 2003, Menuju ‎Renaissance Islam, Yogyakarta : ‎Pustaka Pelajar
http://www.cybermq.com/index.‎php?pustaka/detail/14/1/pustaka-215.html‎
http://t-‎djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D3797DEA6587FD7!124.entry
http://filsafat-‎ilmu.blogspot.com/‎
http://www.cybermq.com/index.‎php?pustaka/detail/14/1/pustaka-218.html‎
http://blogs.unpad.ac.id/mumuhmz/2008/10/21/ilmu-‎pengetahuan-bahan-ii/‎
http://www.filsafat.ugm.ac.id/isi‎/view/164/111/‎
http://fai.elcom.umy.ac.id/mod/forum/discuss.php?d=88‎
http://islamlib.com/id/artikel/siapa-yang-rancu-para-filosof-‎atau-al-ghazali/‎
http://telagahikmah.org/id/index.php?option=com_content&task‎=view&id=93&Itemid=44‎
http://nasirsalo.blogspot.com/20‎‎08/04/tentang-islamisasi-ilmu-‎pengetahuan.html
http://khilafah1924.org/index.ph‎p?option=com_content&task=view&id=387&Itemid=53‎
http://rachmadr.web.ugm.ac.id/in/?p=20‎
http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_Sosial_Profetik
http://www.mindamadani.my