11.26

Islamisasi Ilmu & Pengilmuan Islam, Pilih Mana?

Diposting oleh Muhammad Zuhair Zahid




‎ A. Peradaban Barat dan ‎Hegemoni Epistemologi

Peradaban Barat telah ‎menjadikan ilmu sebagai ‎problematis. Westernisasi ilmu ‎telah menjadikan keraguan ‎sebagai alat epistemologi yang ‎sah dalam keilmuan, menolak ‎wahyu dan kepercayaan agama ‎dalam ruang lingkup keilmuan ‎dan menjadikan spekulasi ‎filosofis yang terkait dengan ‎kehidupan sekular yang ‎memusatkan manusia sebagai ‎makhluk rasional sebagai basis ‎keilmuan. Akibatnya, peradaban ‎Barat telah menghasilkan ilmu ‎pengetahuan dan nilai-nilai etika ‎dan moral, yang diatur oleh rasio ‎manusia, yang terus menerus ‎berubah.‎

Ilmu pengetahuan modern yang ‎dikembangkan Barat dibangun ‎atas dasar kegiatan empiris dan ‎rasionalitas serta menolak intuisi. ‎Antara rasionalitas dan kegiatan ‎empiris memang dapat dibedakan ‎secara definitif berdasarkan cara ‎kerjanya. Namun pada tataran ‎praksis, dua hal tersebut ‎keduanya tidak dapat dipisahkan ‎secara waktu dan cara kerjanya ‎dikarenakan ada dua ‎kemungkinanan, rasio terlebih ‎dahulu dan panca indra mengikuti ‎atau sebaliknya.‎
Sedang intuisi adalah perasaan ‎yang telah tersadarkan, yang ‎mampu mengintegrasikan antara ‎subjek dan objek. Ia merupakan ‎akal (intelek/analitis) yang lebih ‎tinggi yang mampu memahami ‎apa yang tidak difahami akal ‎dengan bertumpu pada ‎pengalaman batin, mental, ‎emosional dan spiritual.‎

Penolakan terhadap intuisi ini ‎membuat ilmu pengetahuan ‎modern ala Barat bersifat ‎materiil. Sehingga tepat jika ‎sampai Syed Muhammad Naquib ‎al-Attas menyimpulkan ilmu ‎pengetahuan modern yang ‎dibangun di atas visi intelektual ‎dan psikologis budaya dan ‎peradaban Barat dijiwai oleh 5 ‎faktor: (1) akal diandalkan untuk ‎membimbing kehidupan manusia; ‎‎(2) bersikap dualistik terhadap ‎realitas dan kebenaran; (3) ‎menegaskan aspek eksistensi ‎yang memproyeksikan ‎pandangan hidup sekuler; (4) ‎membela doktrin humanisme ‎semu; (5) menjadikan drama dan ‎tragedi sebagai unsur-unsur yang ‎dominan dalam fitrah dan ‎eksistensi kemanusiaan.‎

Namun tetap saja ada persamaan ‎antara Islam dengan filsafat dan ‎sains modern yaitu menyangkut ‎sumber dan metode ilmu, ‎kesatuan cara mengetahui secara ‎nalar dan empiris, kombinasi ‎realisme, idealisme dan ‎pragmatisme sebagai fondasi ‎kognitif bagi filsafat sains; proses ‎dan filsafat sains. Walaupun ‎sama, tapi tetap ada perbedaan ‎mendasar dalam pandangan ‎hidup (divergent worldviews) ‎mengenai realitas akhir. Dalam ‎Islam, wahyu merupakan sumber ‎ilmu tentang realitas dan ‎kebenaran akhir berkenaan ‎dengan makhluk ciptaan dan ‎Pencipta. Wahyu adalah dasar ‎kerangka metafisis untuk ‎mengupas filsafat sains sebagai ‎sebuah sistem yang ‎menggambarkan realitas dan ‎kebenaran dari sudat pandang ‎rasionalisme dan empirisesme. ‎Tanpa wahyu, ilmu sains ‎dianggap satu-satunya ‎pengetahuan yang otentik ‎‎(science is the sole authentic ‎knowledge). dan hanya terkait ‎dengan fenomena. Akibatnya, ‎kesimpulan kepada fenomena ‎akan selalu relatif dan berubah ‎sesuai dengan perkembangan ‎zaman.‎

Nilai-nilai yang ada dalam Islam ‎adalah sepanjang masa. Jadi, ‎Islam memiliki pandangan-hidup ‎mutlaknya sendiri, merangkumi ‎persoalan ketuhanan, kenabian, ‎kebenaran, alam semesta dll. ‎Islam memiliki penafsiran ‎ontologis, kosmologis dan ‎psikologis tersendiri terhadap ‎hakikat. Islam menolak ide ‎dekonsekrasi nilai karena ‎merelatifkan semua sistem ‎akhlak.‎

Pandangan Barat tentang ‎moralitas dan akhlak sendiri ‎sangat berbeda. Ambil contoh ‎Sigmund Freud dengan teori ‎bawah sadar dan super egonya. ‎Beliau berpendapat bahwa suara ‎hati, moralitas dan akhlaq tidak ‎lain hanya superimposisi zalim ‎yang berdasarkan dorongan ‎instinktual manusia. Implikasinya ‎adalah bagi Freud agama ‎hanyalah sebuah ilusi.‎

Perbedaan-perbedaan tentang ‎cara memandang intuisi dan ‎moralitas inilah yang berimplikasi ‎pada perbedaan mendasar Barat ‎dan Islam dalam hal ilmu ‎pengetahuan. Sikap relativitas ‎dan anti humanitas ilmu ‎pengetahuan Barat yang ‎ditimbulkan oleh 2 hal tersebut ‎membuat ilmu pengetahuan ‎seolah murni bebas nilai dengan ‎memakai jargon science for ‎science.‎

Penampilan Barat yang dominatif, ‎superior, sudah mengharu-biru ‎hingga pada aspek pendidikan ‎dan kognitif kita. Pandangan ‎epistemologi Barat yang bersifat ‎sekularistik tidak dapat ‎dibendung. Ia masuk ke dalam ‎pendidikan kita dari tingkat TK ‎sampai perguruan tinggi. Efek ‎totalnya ialah kita tidak tahu ‎khazanah keilmuan sendiri, ‎termasuk di dalamnya ‎epistemologi Islam yang ‎mengandung elemen spiritualitas, ‎tak hanya unsur rasionalitas ‎ataupun empirisitas. Pada sisi ‎lain solusi guna menahan ‎gelombang “Hellenisme modern” ‎ini pun lebih banyak merujuk ‎pada sumber asing ketimbang ‎sumber Islam. Padahal yang ‎harus ditolak dari Barat adalah ‎yang tidak sesuai saja, bukan ‎seluruhnya, berdasarkan kaidah ‎ushuliyyah, “Al-Muhafazhah ‘ala ‎al-qad‎im al-shalih wa al-akhdzu ‎bi al-jad‎d al ashlah” ‎‎(mempertahankan tradisi lama ‎yang baik dan mengambil tradisi ‎baru yang lebih baik), tetapi ‎dengan tetap mempertimbangkan ‎‎“Dar’u al-mafasid awla min jalb ‎al-ashalih” (menghindari ‎kerusakan lebih utama daripada ‎meraih manfaat). Dalam dunia ‎falsafah Islam madzhab ‎Masysya’iyyah (Peripatetik) -‎dengan para tokoh failasufnya al-‎Kind‎i (Faylasuf al- Awwal), al-‎Farabi‎ (al-Mu‘allim al-Tsani‎), Ibn ‎Si‎na (al-Syaykh al-Ra’‎is) dan ‎seterusnya- merupakan bukti ‎keterpengaruhan Islam oleh ‎Aristoteles, sementara ‎Isyraqiyyah (Illuminasi) -Syihab ‎al-Di‎n Suhraward‎i (Syaykh al-‎Isyraq, Syaykh al-Maqtul), Ibn ‎‎‘Arabi‎ (Muhy‎ al-D‎in, Syaykh al-‎Akbar, Khatam al-Awliya’), ‎Khwajah Nash‎r al-Di‎n al-Thus‎, ‎Mulla Shadra (Shadr al-‎Muta‘allih) dan lain-lain- ‎cenderung pada konsepsi Plato, ‎yang semua fakta tentang ‎failasuf ini menjelaskan manfaat ‎unsur asing terhadap kehidupan ‎internal umat Islam.‎

B. Epistemologi Islam

Ilmu dalam Peradaban Barat ‎telah mengangkat keraguan dan ‎dugaan ke tahap metodologi ‎ilmiah. Epistemologi Barat telah ‎menguasai seluruh metodologi ‎keilmuan yang ada. Dengan ‎westernisasinya, paradigma ‎keilmuan Barat akhirnya ‎mendominasi dan dijadikan ‎sebuah tolok ukur suatu ‎keilmiahan.‎

Bagaimana dengan Islam ? Dalam ‎khazanah intelektual saat ini, tak ‎jarang ditemui kritik yang ‎dilontarkan oleh sebagian orang ‎terhadap Islam. Bahwasanya ‎epistemologi Islam saat ini ‎sangat lemah. Komentar di atas ‎sangat ironis jika dilihat dari ‎realitas sejarah peradaban dunia, ‎justru Islamlah yang pertama kali ‎mencoba memajukan ‎pengetahuan. Dalam catatan ‎sejarah sulit ditemukan fakta ‎historis -rentang waktu dari ‎Sebelum Masehi hingga abad 8/9 ‎Masehi- sebuah agama, ideologi, ‎apalagi isme yang mampu ‎menyebarkan pengetahuan ‎secara lintas daerah dan negara, ‎atau bahkan internasional (tidak ‎parokial), selain Islam.‎

Banyak diantaranya ilmu-ilmu ‎pengetahuan yang ‎dikembangkan: ilmu-ilmu ‎eksakta; fisika, kimia, berhitung, ‎astronomi, geografi dan ‎sebagainya, ilmu-ilmu sosial; ‎seperti sejarah, sosiologi, kalam ‎dan seterusnya, hingga ilmu-ilmu ‎metafisik; sejenis falsafah, ‎tasawuf, tarekat. Melihat fakta ‎ini, bagaimana mungkin Islam ‎dikatakan kosong dari konsep ‎epistemologi? Dan justru dunia ‎Barat yang baru saja muncul ke ‎permukaan dalam pengetahuan ‎sudah dibilang memiliki ‎epistemologi tinggi.‎

Jika ditinjau dari segi “pengaruh-‎mempengaruhi”, kasus Yunani-‎Islam mempunyai kesamaan ‎dengan kasus antara Islam-Barat. ‎Barat, melanjutkan tradisi ilmu ‎setelah saling bersentuhan. Dan ‎anehnya, Islam selalu diposisikan ‎dalam tingkat terendah. Dari sini ‎dapat ditarik sebuah pokok ‎permasalahan, sejarah dapat ‎ditaklukkan oleh kekinian. ‎Walhasil, negara-negara non-‎Barat tersebut jatuh pada ‎penilaian bahwa Barat muncul ‎sebagai perintis ilmu ‎pengetahuan. Konsepsi ‎kesinambungan ilmu sirna; ‎seakan ilmu pengetahuan tidak ‎memiliki kesinambungan dari ‎masa-masa sebelumnya, seakan ‎Barat bisa hidup dan berjalan ‎tanpa Islam. Akibatnya, ‎sumbangan Islam terhadap ‎pengetahuan tidak ‎diperhitungkan biarpun muncul ‎lebih awal daripada Barat.‎

C. Sumber Ilmu dalam Islam

Menurut Adnin Armas, dalam ‎pandangan Islam, ilmu adalah ‎mungkin. Jadi, pemikiran ‎skeptisisme, relatifisme, ‎agnotisisme tidaklah tepat. Selain ‎itu, ilmu dalam Islam tidak ‎terlepas dari Wahyu. Ini ‎disebabkan ilmu pengetahuan ‎berasal dari Tuhan, dan diraih ‎melalui saluran-saluran sebagai ‎berikut:‎

I. Panca indera (hawass):‎

‎    i. Panca indera eksternal: ‎sentuhan (touch), penciuman ‎‎(smell), rasa (taste),‎
‎       penglihatan (sight) dan ‎pendengaran (hearing)‎
‎    ii. Panca indera internal: akal ‎sehat (common sense), ‎representasi (representation), ‎estimasi
‎       (estimation), retention ‎‎(retensi), rekoleksi (recollection) ‎dan khayalan (imagination).‎

II. Riwayat benar (khabar sadiq) ‎berdasar kepada otoritas (naql):‎
‎    i. otoritas mutlak (absolute ‎authority)‎
‎        a. otoritas Tuhan (divine ‎authority) seperti al-Quran
‎        b. otoritas kenabian ‎‎(prophetic authority), yaitu Nabi‎
‎    ii. otoritas relatif
‎        a. ijma para ulama (tawatur)‎
‎        b. riwayat orang-orang yang ‎amanah secara umum
III. Intelek (aql)‎
‎        i. akal sehat (ratio)‎
‎        ii. intuisi (hads, wijdan).‎

Paparan Adnin di atas ‎menunjukkan perbedaan antara ‎epistemologi Islam dan Barat ‎terletak pada dimensi ‎spiritualitas yang terletak pada ‎saluran imajinasi dan intuisi ‎sehingga perlu disinggung sedikit ‎tentang dimensi spiritualitas ‎Islam.‎

Dalam bahasa Arab kata ‎spiritualitas adalah ruhaniyyah ‎atau ruhiyyah. Kedua kata ‎tersebut berakar-kata dari ruh. ‎Al-Quran menyebut kata ruh 21 ‎kali dalam surat berbeda, dan ‎seluruhnya bermakna wahyu ‎Tuhan. Salah satu ayat secara ‎tegas memiliki konsepsi ruh ‎sebagai wahyu Tuhan, termaktub ‎dalam QS. al-Isra’/17: 85, [Dan ‎mereka bertanya padamu ihwal ‎wahyu Tuhan. Katakanlah, ‎‎“Wahyu ini dari Tuhanmu, dan ‎kamu semata-mata diberikan ‎pengetahuan amatlah sedikit”]. ‎Mayoritas mufassir ‎menginterpretasi kata ruh di situ ‎adalah wahyu Tuhan. Sementara ‎digandengkannya term ruh dan ‎ilmu menunjukkan jalinan erat ‎antara wahyu Tuhan dan ‎pengetahuan. Dengan alasan ‎inilah bagi epistemologi Islam, ‎wahyu merupakan salah satu ‎sumber pengetahuan, yakni ‎pengetahuan datang dari Tuhan. ‎Ini mengakibatkan macam-‎macam pengetahuan dalam Islam ‎terbagi dalam: 1) panca-indera ‎‎(empirisme), 2) akal ‎‎(rasionalisme) dan 3) ‎intuisi/wahyu (revelasionisme). ‎Jenis ketiga merupakan ilmu ‎pengetahuan yang diberikan ‎kepada para nabi an sich, tetapi ‎dalam pandangan failasuf ‎pengetahuan tersebut diperoleh ‎para nabi lantaran mereka ‎memiliki akal-perolehan (al-‘aql ‎al-mustafad, acquired intellect) di ‎luar rata-rata manusia umumnya.‎

Dapat ditarik suatu sintesis, ‎bahwa perspektif epistemologi ‎Islam mengandung: 1) sumber ‎pengetahuan, yang salah satunya ‎adalah wahyu, dan 2) ilmu harus ‎bertujuan pada yang ruhaniah, ‎dalam arti menghidupkan ‎kesadaran bertuhan. Jika kedua ‎butir ini ternyata tidak dimiliki ‎oleh mereka yang berilmu, apa ‎penyebabnya? Bahasa al-Qur’an ‎menggunakan istilah kufr, kafara, ‎kafir berarti “menolak”, yaitu ‎menolak kebenaran yang telah ia ‎akui sebagai kebenaran.‎

Berangkat dari kerangka berfikir ‎Adnin Armas di atas, bahasan ‎tentang sains Islam dapat ‎dikembangkan lebih lanjut.‎

D. Sains Islam?‎

Gagasan “sains Islam” sudah ‎berada di percaturan intelektual ‎Islam selama lebih dari 20 tahun, ‎di berbagai belahan dunia ‎Muslim, termasuk Indonesia. ‎Salah satu tujuan “penciptaan” ‎epistemologi Islam adalah untuk ‎‎“membangun sains yang berdaya ‎guna bagi kehidupan manusia ‎dan kemanusiaan.” Sains Barat ‎modern didasarkan pada ‎epistemologi Barat, maka ‎epistemologi Islam—yang ‎keberadaannya sulit dipungkiri—‎sudah sewajarnyalah mampu ‎melahirkan sains yang Islami.‎

Di sini, epistemologi dianggap ‎sebagai dasar sains; epistemologi ‎memiliki prioritas (yaitu, ‎keterdahuluan) baik secara ‎konseptual maupun temporal. ‎Namun sejarah sains, baik di ‎Barat mapun Islam, menunjukkan ‎bahwa kaitan epistemologi ‎dengan sains tak serapi itu. ‎Kaitan yang rapi hanya muncul ‎dalam rekonstruksi rasional atas ‎sejarah, yang tak mesti mewakili ‎gerak sejarah yang sebenarnya. ‎Nyatanya, sains kerap memiliki ‎dinamikanya sendiri. Sains ‎berkembang bukan karena ‎epistemologi yang baik, tapi ‎justru epistemologi kerap dipaksa ‎menyesuaikan diri dengan ‎temuan-temuan -dan kegagalan-‎kegagalan- sains.‎

Ada dua hal yang perlu kita ‎fahami jika kita berangkat dari ‎‎“penciptaan” epistemologi Islam ‎menuju sains Islam. Yang ‎pertama adalah Islamisasi Ilmu ‎dan yang kedua adalah ‎Pengilmuan Islam.‎

E. Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan modern yang ‎saat ini dihasilkan oleh ‎peradaban Barat tidak serta-‎merta harus diterapkan di dunia ‎Muslim. Sebabnya, ilmu bukan ‎bebas-nilai (value-free), tetapi ‎sarat nilai (value laden). Ilmu ‎bisa dijadikan alat yang sangat ‎halus dan tajam bagi ‎menyebarluaskan cara dan ‎pandangan hidup sesuatu ‎kebudayaan.‎

Dengan mendiagnosa virus yang ‎terkandung dalam westernisasi ‎ilmu, Syed Muhammad Naquib al-‎Attas mencoba mengobatinya ‎dengan Islamisasi ilmu. ‎Alasannya, tantangan terbesar ‎yang dihadapi kaum Muslimin ‎adalah ilmu pengetahuan modern ‎yang tidak netral dan telah ‎diinfus ke dalam praduga-‎praduga agama, budaya dan ‎filosofis, yang sebenarnya berasal ‎dari refleksi kesadaran dan ‎pengalaman manusia Barat.‎
Jadi, ilmu pengetahuan modern ‎harus diislamkan. Mengislamkan ‎ilmu bukanlah pekerjaan mudah ‎seperti labelisasi. Selain itu, tidak ‎semua dari Barat berarti ditolak. ‎Sebabnya, terdapat sejumlah ‎persamaan antara Islam dan ‎filsafat dan sains Barat. Oleh ‎sebab itu, seseorang yang ‎mengislamkan ilmu, ia perlu ‎memenuhi pra-syarat, yaitu ia ‎harus mampu mengidentifikasi ‎pandangan-hidup Islam (the ‎Islamic worldview) sekaligus ‎mampu memahami budaya dan ‎peradaban Barat. Pandangan-‎hidup dalam Islam adalah visi ‎mengenai realitas dan kebenaran ‎‎(the vision of reality and truth).‎

Realitas dan kebenaran dalam ‎Islam bukanlah semata-mata ‎fikiran tentang alam fisik dan ‎keterlibatan manusia dalam ‎sejarah, sosial, politik dan budaya ‎sebagaimana yang ada di dalam ‎konsep Barat sekular mengenai ‎dunia, yang dibatasi kepada ‎dunia yang dapat dilihat. Realitas ‎dan kebenaran dimaknai ‎berdasarkan kajian kepada ‎metafisika terhadap dunia yang ‎nampak dan tidak nampak. Jadi, ‎pandangan-hidup Islam ‎mencakup dunia dan akhirat, ‎yang mana aspek dunia harus ‎dihubungkan dengan cara yang ‎sangat mendalam kepada aspek ‎akhirat, dan aspek akhirat ‎memiliki signifikansi yang ‎terakhir dan final.‎

Setelah mengetahui secara ‎mendalam mengenai pandangan-‎hidup Islam dan Barat, maka ‎proses Islamisasi baru bisa ‎dilakukan. Sebabnya, Islamisasi ‎ilmu pengetahuan saat ini (the ‎Islamization of present-day ‎knowledge), melibatkan proses ‎yang saling terkait, yaitu :‎

Mengisolir unsur-unsur dan ‎konsep-konsep kunci membentuk ‎budaya dan peradaban Barat ‎‎(unsur yang telah disebutkan ‎sebelumnya), dari setiap bidang ‎ilmu pengetahuan modern saat ‎ini, khususnya dalam ilmu ‎pengetahuan humaniora. ‎Bagaimanapun, ilmu-ilmu alam, ‎fisika dan aplikasi harus ‎diislamkan juga khususnya dalam ‎penafsiran-penafsiran akan ‎fakta-fakta dan dalam formulasi ‎teoriteori. Selain itu, ilmu-ilmu ‎modern harus diperiksa dengan ‎teliti. Ini mencakup metode, ‎konsep, praduga, simbol, dari ‎ilmu modern; beserta aspek-‎aspek empiris dan rasional, dan ‎yang berdampak kepada nilai dan ‎etika; penafsiran historisitas ilmu ‎tersebut, bangunan teori ilmunya, ‎praduganya berkaitan dengan ‎dunia, dan rasionalitas proses-‎proses ilmiah, teori ilmu tersebut ‎tentang alam semesta, ‎klasifikasinya, batasannya, ‎hubung kaitnya dengan ilmu-ilmu ‎lainnya serta hubungannya ‎dengan sosial harus diperiksa ‎dengan teliti.‎
memasukkan unsur-unsur Islam ‎beserta konsep-konsep kunci ‎dalam setiap bidang dari ilmu ‎pengetahuan saat ini yang ‎relevan. Jika kedua proses ‎tersebut selesai dilakukan, maka ‎Islamisasi akan membebaskan ‎manusia dari mitologi, animisme, ‎tradisi budaya nasional yang ‎bertentangan dengan Islam, dan ‎kemudian dari kontrol sekular ‎kepada akal dan bahasanya. ‎Islamisasi akan membebaskan ‎akal manusia dari keraguan) ‎dugaan dan argumentasi kosong ‎menuju keyakinan akan ‎kebenaran mengenai realitas ‎spiritual, intelligible dan materi. ‎Islamisasi akan mengeluarkan ‎penafsiran-penafsiran ilmu ‎pengetahuan kontemporer dari ‎ideologi, makna dan ungkapan ‎sekular.‎

F. Pengilmuan Islam

Secara harfiah, frasa “pengilmuan ‎Islam” berarti menjadikan Islam ‎sebagai ilmu. Dari sini saja bisa ‎muncul banyak pertanyaan. ‎Pertama, perlu diperhatikan ‎bahwa ia tak hanya berbicara ‎mengenai Islam sebagai sumber ‎ilmu, atau etika Islam sebagai ‎panduan penerapan ilmu, ‎misalnya. Tapi Islam itu sendiri ‎yang merupakan ilmu. Dengan ‎‎“pengilmuan Islam”, yang ingin ‎ditujunya adalah aspek ‎universalitas klaim Islam sebagai ‎rahmat bagi alam semesta --‎bukan hanya bagi pribadi-pribadi ‎atau masyarakat Muslim, tapi ‎semua orang; bahkan setiap ‎makhluk di alam semesta ini. ‎‎“Rahmat bagi alam semesta” ‎adalah tujuan akhir pengilmuan ‎Islam. Rahmat itu dijanjikan ‎bukan hanya untuk Muslim tapi ‎untuk semuanya. Tugas Muslim ‎adalah mewujudkannya; ‎pengilmuan Islam adalah ‎caranya. Secara lebih spesifik, ‎Islam di-ilmu-kan dengan cara ‎mengobjektifkannya.‎

Satu cara untuk memahami gerak ‎‎“pengilmuan Islam” adalah ‎dengan memperhatikan ‎periodisasi sistem pengetahuan ‎Muslim yang dibuat Kuntowijoyo. ‎Periodisasi penting untuk ‎memahami apa yang akan ‎dikerjakan pada suatu periode ‎tertentu. Keputusan baik yang ‎diambil di suatu periode belum ‎tentu akan bermanfaat di periode ‎yang lain. Dalam periodisasi ini, ‎umat Islam bergerak dari periode ‎pemahaman Islam sebagai mitos, ‎lalu sebagai ideologi, dan terakhir ‎sebagai ilmu .‎

Pada periode pertama, Islam ‎dipahami lebih sebagai mitos; ‎sebagai sesuatu yang sudah ‎selesai dan tinggal perlu ‎dipertahankan, dijaga ‎kemurniannya dari campuran-‎campuran non-islami, dan jika ‎perlu dipertahankan dari ‎serangan pihak luar, dimana ‎tradisi ini biasanya bersifat ‎deklaratif atau apologetis.‎

Islam sebagai ideologi sudah ‎bersifat lebih rasional, tapi masih ‎terlalu apriori/nonlogis. Di sini ‎Islam ditampilkan sebagai ‎ideologi tandingan bagi ideologi-‎ideologi dunia seperti kapitalisme ‎dan komunisme. Dalam bidang ‎politik, ciri utama gerakan ini ‎adalah berdirinya organisasi-‎organisasi politik, dan ditandai ‎dengan gagasan pembentukan ‎Negara Islam. Islam eksis hanya ‎jika ia eksis secara institusional-‎formal. Karena itu, ketika di ‎Indonesia semua ormas ‎diharuskan berasas Pancasila, ini ‎dipahami sebagai upaya de-‎islamisasi. Padahal, ini juga bisa ‎dilihat sebagai isyarat bahwa ‎Islam perlu memasuki babak ‎baru, yaitu periode Islam sebagai ‎ilmu.‎

Dalam periode ilmu, yang ‎diperlukan adalah objektifikasi ‎Islam. Untuk mengambil contoh ‎aktifitas dalam periode ini di ‎bidang politik, yaitu para ‎founding fathers Indonesia yang ‎Muslim, menghapuskan tujuh ‎kata dari Piagam Jakarta amat ‎berat dilakukan, namun toh ‎akhirnya dilakukan juga. ‎Keputusan yang sama beratnya ‎mesti diambil ketika pada masa ‎Orde Baru terjadi marjinalisasi ‎keterlibatan politik Muslim.‎

Dengan langkah-langkah ‎tersebut, nilai-nilai Islami ‎menjadi sesuatu yang bisa ‎diterima orang, Muslim ataupun ‎non-Muslim, karena kebaikan ‎nilai-nilai itu sendiri, bukan ‎karena nilai-nilai itu disebut ‎‎“Islami”. Dengan cara ini, Islam ‎menjadi rahmat untuk alam ‎semesta.‎

G. Pilih yang Mana?‎

Dua hal di atas menjadi suatu ‎kontradiksi. Islamisasi Ilmu ‎adalah menjadikan suatu ilmu ‎menjadi subjektif dan ‎menyeretnya ke dalam lingkaran ‎nilai (?) Islam. Hal yang sangat ‎sesuai jika kita memakai diktum ‎ilmu taut nilai. Dengan Islamisasi ‎Ilmu, maka yang terjadi adalah ‎proses pemurnian ilmu dari ‎westernian yang ia miliki, dengan ‎tetap mempertahankan proses ‎yang dianggap sesuai dengan ‎epistemologi Islam.‎

Sementara objektifitas ilmu yang ‎dituntut oleh Kuntowijoyo lewat ‎pengilmuan Islamnya membuat ‎baju dan atribut Islam yang ‎melekat pada sistem, siyasiyah, ‎dan objek lain harus dilepaskan. ‎Nilai Islam menjadi baik bukan ‎karena atribut Islamnya, akan ‎tetapi karena kebaikan nilai itu ‎sendiri. Ilmu pun dilepaskan dari ‎label Islam, namun Islamlah yang ‎ditarik dalam lingkaran keilmuan, ‎sehingga kebaikan yang ‎ditimbulkan oleh ilmu bukan ‎karena label Islamnya, namun ‎karena disesuaikannya Ilmu ‎dengan nilai-nilai keIslaman.‎

Paradigma apa yang diambil jelas ‎akan bersifat subjektif. Apakah ‎subjektifitas Islamisasi Ilmu atau ‎objektifitas pengilmuan Islam ‎yang ingin dipakai tergantung ‎dari bagaimana kita ‎mengembangkan wacana dan ‎dialektika mengenai hal tersebut. ‎Bahkan mungkin dalam waktu ke ‎depan, akan muncul teori baru ‎yang merupakan perpaduan ‎maupun integrasi dari keduanya.‎

Sumber Bacaan :‎

Rosadisastra, Andi, 2007, Metode ‎Tafsir Ayat-Ayat Sains dan Sosial, ‎Jakarta : Amzah
Nasution, Hidayat, 2007, Mukjizat ‎Al-Qur’an versus Tahayul Iptek, ‎Depok : Intuisi Press
Hanafi, Hasan, 2007, “Ambiguitas ‎Pemikiran Ibnu Rusyd”, dalam ‎Ibnu Rusyd, Gerbang Pencerahan ‎Timur dan Barat, Zuhairi Miswari ‎‎(Ed), Jakarta : P3M‎
Badaruddin, Kemas, 2007, ‎Filsafat Pendidikan Islam, ‎Analisis Pemikiran al-Attas, ‎Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Haque, Israrul, 2003, Menuju ‎Renaissance Islam, Yogyakarta : ‎Pustaka Pelajar
http://www.cybermq.com/index.‎php?pustaka/detail/14/1/pustaka-215.html‎
http://t-‎djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D3797DEA6587FD7!124.entry
http://filsafat-‎ilmu.blogspot.com/‎
http://www.cybermq.com/index.‎php?pustaka/detail/14/1/pustaka-218.html‎
http://blogs.unpad.ac.id/mumuhmz/2008/10/21/ilmu-‎pengetahuan-bahan-ii/‎
http://www.filsafat.ugm.ac.id/isi‎/view/164/111/‎
http://fai.elcom.umy.ac.id/mod/forum/discuss.php?d=88‎
http://islamlib.com/id/artikel/siapa-yang-rancu-para-filosof-‎atau-al-ghazali/‎
http://telagahikmah.org/id/index.php?option=com_content&task‎=view&id=93&Itemid=44‎
http://nasirsalo.blogspot.com/20‎‎08/04/tentang-islamisasi-ilmu-‎pengetahuan.html
http://khilafah1924.org/index.ph‎p?option=com_content&task=view&id=387&Itemid=53‎
http://rachmadr.web.ugm.ac.id/in/?p=20‎
http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_Sosial_Profetik
http://www.mindamadani.my




0 komentar:

Posting Komentar