11.26

Islamisasi Ilmu & Pengilmuan Islam, Pilih Mana?

Diposting oleh Muhammad Zuhair Zahid




A. Peradaban Barat dan Hegemoni Epistemologi

Peradaban Barat telah menjadikan ilmu sebagai problematis. Westernisasi ilmu telah menjadikan keraguan sebagai alat epistemologi yang sah dalam keilmuan, menolak wahyu dan kepercayaan agama dalam ruang lingkup keilmuan dan menjadikan spekulasi filosofis yang terkait dengan kehidupan sekular yang memusatkan manusia sebagai makhluk rasional sebagai basis keilmuan. Akibatnya, peradaban Barat telah menghasilkan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai etika dan moral, yang diatur oleh rasio manusia, yang terus menerus berubah.

Ilmu pengetahuan modern yang dikembangkan Barat dibangun atas dasar kegiatan empiris dan rasionalitas serta menolak intuisi. Antara rasionalitas dan kegiatan empiris memang dapat dibedakan secara definitif berdasarkan cara kerjanya. Namun pada tataran praksis, dua hal tersebut keduanya tidak dapat dipisahkan secara waktu dan cara kerjanya dikarenakan ada dua kemungkinanan, rasio terlebih dahulu dan panca indra mengikuti atau sebaliknya.
Sedang intuisi adalah perasaan yang telah tersadarkan, yang mampu mengintegrasikan antara subjek dan objek. Ia merupakan akal (intelek/analitis) yang lebih tinggi yang mampu memahami apa yang tidak difahami akal dengan bertumpu pada pengalaman batin, mental, emosional dan spiritual.

Penolakan terhadap intuisi ini membuat ilmu pengetahuan modern ala Barat bersifat materiil. Sehingga tepat jika sampai Syed Muhammad Naquib al-Attas menyimpulkan ilmu pengetahuan modern yang dibangun di atas visi intelektual dan psikologis budaya dan peradaban Barat dijiwai oleh 5 faktor: (1) akal diandalkan untuk membimbing kehidupan manusia; ‎‎(2) bersikap dualistik terhadap realitas dan kebenaran; (3) menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekuler; (4) membela doktrin humanisme semu; (5) menjadikan drama dan tragedi sebagai unsur-unsur yang dominan dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan.

Namun tetap saja ada persamaan antara Islam dengan filsafat dan sains modern yaitu menyangkut sumber dan metode ilmu, kesatuan cara mengetahui secara nalar dan empiris, kombinasi realisme, idealisme dan pragmatisme sebagai fondasi kognitif bagi filsafat sains; proses dan filsafat sains. Walaupun sama, tapi tetap ada perbedaan mendasar dalam pandangan hidup (divergent worldviews) mengenai realitas akhir. Dalam Islam, wahyu merupakan sumber ilmu tentang realitas dan kebenaran akhir berkenaan dengan makhluk ciptaan dan Pencipta. Wahyu adalah dasar kerangka metafisis untuk mengupas filsafat sains sebagai sebuah sistem yang menggambarkan realitas dan kebenaran dari sudat pandang rasionalisme dan empirisesme. Tanpa wahyu, ilmu sains dianggap satu-satunya pengetahuan yang otentik ‎‎(science is the sole authentic knowledge). dan hanya terkait dengan fenomena. Akibatnya, kesimpulan kepada fenomena akan selalu relatif dan berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Nilai-nilai yang ada dalam Islam adalah sepanjang masa. Jadi, Islam memiliki pandangan-hidup mutlaknya sendiri, merangkumi persoalan ketuhanan, kenabian, kebenaran, alam semesta dll. Islam memiliki penafsiran ontologis, kosmologis dan psikologis tersendiri terhadap hakikat. Islam menolak ide dekonsekrasi nilai karena merelatifkan semua sistem akhlak.

Pandangan Barat tentang moralitas dan akhlak sendiri sangat berbeda. Ambil contoh Sigmund Freud dengan teori bawah sadar dan super egonya. Beliau berpendapat bahwa suara hati, moralitas dan akhlaq tidak lain hanya superimposisi zalim yang berdasarkan dorongan instinktual manusia. Implikasinya adalah bagi Freud agama hanyalah sebuah ilusi.

Perbedaan-perbedaan tentang cara memandang intuisi dan moralitas inilah yang berimplikasi pada perbedaan mendasar Barat dan Islam dalam hal ilmu pengetahuan. Sikap relativitas dan anti humanitas ilmu pengetahuan Barat yang ditimbulkan oleh 2 hal tersebut membuat ilmu pengetahuan seolah murni bebas nilai dengan memakai jargon science for science.

Penampilan Barat yang dominatif, superior, sudah mengharu-biru hingga pada aspek pendidikan dan kognitif kita. Pandangan epistemologi Barat yang bersifat sekularistik tidak dapat dibendung. Ia masuk ke dalam pendidikan kita dari tingkat TK sampai perguruan tinggi. Efek totalnya ialah kita tidak tahu khazanah keilmuan sendiri, termasuk di dalamnya epistemologi Islam yang mengandung elemen spiritualitas, tak hanya unsur rasionalitas ataupun empirisitas. Pada sisi lain solusi guna menahan gelombang “Hellenisme modern” ini pun lebih banyak merujuk pada sumber asing ketimbang sumber Islam. Padahal yang harus ditolak dari Barat adalah yang tidak sesuai saja, bukan seluruhnya, berdasarkan kaidah ushuliyyah, “Al-Muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadd al ashlah” ‎‎(mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik), tetapi dengan tetap mempertimbangkan ‎‎“Dar’u al-mafasid awla min jalb al-ashalih” (menghindari kerusakan lebih utama daripada meraih manfaat). Dalam dunia falsafah Islam madzhab Masysya’iyyah (Peripatetik) -dengan para tokoh failasufnya al-Kindi (Faylasuf al- Awwal), al-Farabi (al-Mu‘allim al-Tsani), Ibn Sina (al-Syaykh al-Ra’is) dan seterusnya- merupakan bukti keterpengaruhan Islam oleh Aristoteles, sementara Isyraqiyyah (Illuminasi) -Syihab al-Din Suhrawardi (Syaykh al-Isyraq, Syaykh al-Maqtul), Ibn ‎‎‘Arabi (Muhy al-Din, Syaykh al-Akbar, Khatam al-Awliya’), Khwajah Nashr al-Din al-Thus, Mulla Shadra (Shadr al-Muta‘allih) dan lain-lain- cenderung pada konsepsi Plato, yang semua fakta tentang failasuf ini menjelaskan manfaat unsur asing terhadap kehidupan internal umat Islam.

B. Epistemologi Islam

Ilmu dalam Peradaban Barat telah mengangkat keraguan dan dugaan ke tahap metodologi ilmiah. Epistemologi Barat telah menguasai seluruh metodologi keilmuan yang ada. Dengan westernisasinya, paradigma keilmuan Barat akhirnya mendominasi dan dijadikan sebuah tolok ukur suatu keilmiahan.

Bagaimana dengan Islam ? Dalam khazanah intelektual saat ini, tak jarang ditemui kritik yang dilontarkan oleh sebagian orang terhadap Islam. Bahwasanya epistemologi Islam saat ini sangat lemah. Komentar di atas sangat ironis jika dilihat dari realitas sejarah peradaban dunia, justru Islamlah yang pertama kali mencoba memajukan pengetahuan. Dalam catatan sejarah sulit ditemukan fakta historis -rentang waktu dari Sebelum Masehi hingga abad 8/9 Masehi- sebuah agama, ideologi, apalagi isme yang mampu menyebarkan pengetahuan secara lintas daerah dan negara, atau bahkan internasional (tidak parokial), selain Islam.

Banyak diantaranya ilmu-ilmu pengetahuan yang dikembangkan: ilmu-ilmu eksakta; fisika, kimia, berhitung, astronomi, geografi dan sebagainya, ilmu-ilmu sosial; seperti sejarah, sosiologi, kalam dan seterusnya, hingga ilmu-ilmu metafisik; sejenis falsafah, tasawuf, tarekat. Melihat fakta ini, bagaimana mungkin Islam dikatakan kosong dari konsep epistemologi? Dan justru dunia Barat yang baru saja muncul ke permukaan dalam pengetahuan sudah dibilang memiliki epistemologi tinggi.

Jika ditinjau dari segi “pengaruh-mempengaruhi”, kasus Yunani-Islam mempunyai kesamaan dengan kasus antara Islam-Barat. Barat, melanjutkan tradisi ilmu setelah saling bersentuhan. Dan anehnya, Islam selalu diposisikan dalam tingkat terendah. Dari sini dapat ditarik sebuah pokok permasalahan, sejarah dapat ditaklukkan oleh kekinian. Walhasil, negara-negara non-Barat tersebut jatuh pada penilaian bahwa Barat muncul sebagai perintis ilmu pengetahuan. Konsepsi kesinambungan ilmu sirna; seakan ilmu pengetahuan tidak memiliki kesinambungan dari masa-masa sebelumnya, seakan Barat bisa hidup dan berjalan tanpa Islam. Akibatnya, sumbangan Islam terhadap pengetahuan tidak diperhitungkan biarpun muncul lebih awal daripada Barat.

C. Sumber Ilmu dalam Islam

Menurut Adnin Armas, dalam pandangan Islam, ilmu adalah mungkin. Jadi, pemikiran skeptisisme, relatifisme, agnotisisme tidaklah tepat. Selain itu, ilmu dalam Islam tidak terlepas dari Wahyu. Ini disebabkan ilmu pengetahuan berasal dari Tuhan, dan diraih melalui saluran-saluran sebagai berikut:

I. Panca indera (hawass):

    i. Panca indera eksternal: sentuhan (touch), penciuman ‎‎(smell), rasa (taste),
       penglihatan (sight) dan pendengaran (hearing)
    ii. Panca indera internal: akal sehat (common sense), representasi (representation), estimasi
       (estimation), retention ‎‎(retensi), rekoleksi (recollection) dan khayalan (imagination).

II. Riwayat benar (khabar sadiq) berdasar kepada otoritas (naql):
    i. otoritas mutlak (absolute authority)
        a. otoritas Tuhan (divine authority) seperti al-Quran
        b. otoritas kenabian ‎‎(prophetic authority), yaitu Nabi
    ii. otoritas relatif
        a. ijma para ulama (tawatur)
        b. riwayat orang-orang yang amanah secara umum
III. Intelek (aql)
        i. akal sehat (ratio)
        ii. intuisi (hads, wijdan).

Paparan Adnin di atas menunjukkan perbedaan antara epistemologi Islam dan Barat terletak pada dimensi spiritualitas yang terletak pada saluran imajinasi dan intuisi sehingga perlu disinggung sedikit tentang dimensi spiritualitas Islam.

Dalam bahasa Arab kata spiritualitas adalah ruhaniyyah atau ruhiyyah. Kedua kata tersebut berakar-kata dari ruh. Al-Quran menyebut kata ruh 21 kali dalam surat berbeda, dan seluruhnya bermakna wahyu Tuhan. Salah satu ayat secara tegas memiliki konsepsi ruh sebagai wahyu Tuhan, termaktub dalam QS. al-Isra’/17: 85, [Dan mereka bertanya padamu ihwal wahyu Tuhan. Katakanlah, ‎‎“Wahyu ini dari Tuhanmu, dan kamu semata-mata diberikan pengetahuan amatlah sedikit”]. Mayoritas mufassir menginterpretasi kata ruh di situ adalah wahyu Tuhan. Sementara digandengkannya term ruh dan ilmu menunjukkan jalinan erat antara wahyu Tuhan dan pengetahuan. Dengan alasan inilah bagi epistemologi Islam, wahyu merupakan salah satu sumber pengetahuan, yakni pengetahuan datang dari Tuhan. Ini mengakibatkan macam-macam pengetahuan dalam Islam terbagi dalam: 1) panca-indera ‎‎(empirisme), 2) akal ‎‎(rasionalisme) dan 3) intuisi/wahyu (revelasionisme). Jenis ketiga merupakan ilmu pengetahuan yang diberikan kepada para nabi an sich, tetapi dalam pandangan failasuf pengetahuan tersebut diperoleh para nabi lantaran mereka memiliki akal-perolehan (al-‘aql al-mustafad, acquired intellect) di luar rata-rata manusia umumnya.

Dapat ditarik suatu sintesis, bahwa perspektif epistemologi Islam mengandung: 1) sumber pengetahuan, yang salah satunya adalah wahyu, dan 2) ilmu harus bertujuan pada yang ruhaniah, dalam arti menghidupkan kesadaran bertuhan. Jika kedua butir ini ternyata tidak dimiliki oleh mereka yang berilmu, apa penyebabnya? Bahasa al-Qur’an menggunakan istilah kufr, kafara, kafir berarti “menolak”, yaitu menolak kebenaran yang telah ia akui sebagai kebenaran.

Berangkat dari kerangka berfikir Adnin Armas di atas, bahasan tentang sains Islam dapat dikembangkan lebih lanjut.

D. Sains Islam?

Gagasan “sains Islam” sudah berada di percaturan intelektual Islam selama lebih dari 20 tahun, di berbagai belahan dunia Muslim, termasuk Indonesia. Salah satu tujuan “penciptaan” epistemologi Islam adalah untuk ‎‎“membangun sains yang berdaya guna bagi kehidupan manusia dan kemanusiaan.” Sains Barat modern didasarkan pada epistemologi Barat, maka epistemologi Islam—yang keberadaannya sulit dipungkiri—sudah sewajarnyalah mampu melahirkan sains yang Islami.

Di sini, epistemologi dianggap sebagai dasar sains; epistemologi memiliki prioritas (yaitu, keterdahuluan) baik secara konseptual maupun temporal. Namun sejarah sains, baik di Barat mapun Islam, menunjukkan bahwa kaitan epistemologi dengan sains tak serapi itu. Kaitan yang rapi hanya muncul dalam rekonstruksi rasional atas sejarah, yang tak mesti mewakili gerak sejarah yang sebenarnya. Nyatanya, sains kerap memiliki dinamikanya sendiri. Sains berkembang bukan karena epistemologi yang baik, tapi justru epistemologi kerap dipaksa menyesuaikan diri dengan temuan-temuan -dan kegagalan-kegagalan- sains.

Ada dua hal yang perlu kita fahami jika kita berangkat dari ‎‎“penciptaan” epistemologi Islam menuju sains Islam. Yang pertama adalah Islamisasi Ilmu dan yang kedua adalah Pengilmuan Islam.

E. Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan modern yang saat ini dihasilkan oleh peradaban Barat tidak serta-merta harus diterapkan di dunia Muslim. Sebabnya, ilmu bukan bebas-nilai (value-free), tetapi sarat nilai (value laden). Ilmu bisa dijadikan alat yang sangat halus dan tajam bagi menyebarluaskan cara dan pandangan hidup sesuatu kebudayaan.

Dengan mendiagnosa virus yang terkandung dalam westernisasi ilmu, Syed Muhammad Naquib al-Attas mencoba mengobatinya dengan Islamisasi ilmu. Alasannya, tantangan terbesar yang dihadapi kaum Muslimin adalah ilmu pengetahuan modern yang tidak netral dan telah diinfus ke dalam praduga-praduga agama, budaya dan filosofis, yang sebenarnya berasal dari refleksi kesadaran dan pengalaman manusia Barat.
Jadi, ilmu pengetahuan modern harus diislamkan. Mengislamkan ilmu bukanlah pekerjaan mudah seperti labelisasi. Selain itu, tidak semua dari Barat berarti ditolak. Sebabnya, terdapat sejumlah persamaan antara Islam dan filsafat dan sains Barat. Oleh sebab itu, seseorang yang mengislamkan ilmu, ia perlu memenuhi pra-syarat, yaitu ia harus mampu mengidentifikasi pandangan-hidup Islam (the Islamic worldview) sekaligus mampu memahami budaya dan peradaban Barat. Pandangan-hidup dalam Islam adalah visi mengenai realitas dan kebenaran ‎‎(the vision of reality and truth).

Realitas dan kebenaran dalam Islam bukanlah semata-mata fikiran tentang alam fisik dan keterlibatan manusia dalam sejarah, sosial, politik dan budaya sebagaimana yang ada di dalam konsep Barat sekular mengenai dunia, yang dibatasi kepada dunia yang dapat dilihat. Realitas dan kebenaran dimaknai berdasarkan kajian kepada metafisika terhadap dunia yang nampak dan tidak nampak. Jadi, pandangan-hidup Islam mencakup dunia dan akhirat, yang mana aspek dunia harus dihubungkan dengan cara yang sangat mendalam kepada aspek akhirat, dan aspek akhirat memiliki signifikansi yang terakhir dan final.

Setelah mengetahui secara mendalam mengenai pandangan-hidup Islam dan Barat, maka proses Islamisasi baru bisa dilakukan. Sebabnya, Islamisasi ilmu pengetahuan saat ini (the Islamization of present-day knowledge), melibatkan proses yang saling terkait, yaitu :

Mengisolir unsur-unsur dan konsep-konsep kunci membentuk budaya dan peradaban Barat ‎‎(unsur yang telah disebutkan sebelumnya), dari setiap bidang ilmu pengetahuan modern saat ini, khususnya dalam ilmu pengetahuan humaniora. Bagaimanapun, ilmu-ilmu alam, fisika dan aplikasi harus diislamkan juga khususnya dalam penafsiran-penafsiran akan fakta-fakta dan dalam formulasi teoriteori. Selain itu, ilmu-ilmu modern harus diperiksa dengan teliti. Ini mencakup metode, konsep, praduga, simbol, dari ilmu modern; beserta aspek-aspek empiris dan rasional, dan yang berdampak kepada nilai dan etika; penafsiran historisitas ilmu tersebut, bangunan teori ilmunya, praduganya berkaitan dengan dunia, dan rasionalitas proses-proses ilmiah, teori ilmu tersebut tentang alam semesta, klasifikasinya, batasannya, hubung kaitnya dengan ilmu-ilmu lainnya serta hubungannya dengan sosial harus diperiksa dengan teliti.
memasukkan unsur-unsur Islam beserta konsep-konsep kunci dalam setiap bidang dari ilmu pengetahuan saat ini yang relevan. Jika kedua proses tersebut selesai dilakukan, maka Islamisasi akan membebaskan manusia dari mitologi, animisme, tradisi budaya nasional yang bertentangan dengan Islam, dan kemudian dari kontrol sekular kepada akal dan bahasanya. Islamisasi akan membebaskan akal manusia dari keraguan) dugaan dan argumentasi kosong menuju keyakinan akan kebenaran mengenai realitas spiritual, intelligible dan materi. Islamisasi akan mengeluarkan penafsiran-penafsiran ilmu pengetahuan kontemporer dari ideologi, makna dan ungkapan sekular.

F. Pengilmuan Islam

Secara harfiah, frasa “pengilmuan Islam” berarti menjadikan Islam sebagai ilmu. Dari sini saja bisa muncul banyak pertanyaan. Pertama, perlu diperhatikan bahwa ia tak hanya berbicara mengenai Islam sebagai sumber ilmu, atau etika Islam sebagai panduan penerapan ilmu, misalnya. Tapi Islam itu sendiri yang merupakan ilmu. Dengan ‎‎“pengilmuan Islam”, yang ingin ditujunya adalah aspek universalitas klaim Islam sebagai rahmat bagi alam semesta --bukan hanya bagi pribadi-pribadi atau masyarakat Muslim, tapi semua orang; bahkan setiap makhluk di alam semesta ini. ‎‎“Rahmat bagi alam semesta” adalah tujuan akhir pengilmuan Islam. Rahmat itu dijanjikan bukan hanya untuk Muslim tapi untuk semuanya. Tugas Muslim adalah mewujudkannya; pengilmuan Islam adalah caranya. Secara lebih spesifik, Islam di-ilmu-kan dengan cara mengobjektifkannya.

Satu cara untuk memahami gerak ‎‎“pengilmuan Islam” adalah dengan memperhatikan periodisasi sistem pengetahuan Muslim yang dibuat Kuntowijoyo. Periodisasi penting untuk memahami apa yang akan dikerjakan pada suatu periode tertentu. Keputusan baik yang diambil di suatu periode belum tentu akan bermanfaat di periode yang lain. Dalam periodisasi ini, umat Islam bergerak dari periode pemahaman Islam sebagai mitos, lalu sebagai ideologi, dan terakhir sebagai ilmu .

Pada periode pertama, Islam dipahami lebih sebagai mitos; sebagai sesuatu yang sudah selesai dan tinggal perlu dipertahankan, dijaga kemurniannya dari campuran-campuran non-islami, dan jika perlu dipertahankan dari serangan pihak luar, dimana tradisi ini biasanya bersifat deklaratif atau apologetis.

Islam sebagai ideologi sudah bersifat lebih rasional, tapi masih terlalu apriori/nonlogis. Di sini Islam ditampilkan sebagai ideologi tandingan bagi ideologi-ideologi dunia seperti kapitalisme dan komunisme. Dalam bidang politik, ciri utama gerakan ini adalah berdirinya organisasi-organisasi politik, dan ditandai dengan gagasan pembentukan Negara Islam. Islam eksis hanya jika ia eksis secara institusional-formal. Karena itu, ketika di Indonesia semua ormas diharuskan berasas Pancasila, ini dipahami sebagai upaya de-islamisasi. Padahal, ini juga bisa dilihat sebagai isyarat bahwa Islam perlu memasuki babak baru, yaitu periode Islam sebagai ilmu.

Dalam periode ilmu, yang diperlukan adalah objektifikasi Islam. Untuk mengambil contoh aktifitas dalam periode ini di bidang politik, yaitu para founding fathers Indonesia yang Muslim, menghapuskan tujuh kata dari Piagam Jakarta amat berat dilakukan, namun toh akhirnya dilakukan juga. Keputusan yang sama beratnya mesti diambil ketika pada masa Orde Baru terjadi marjinalisasi keterlibatan politik Muslim.

Dengan langkah-langkah tersebut, nilai-nilai Islami menjadi sesuatu yang bisa diterima orang, Muslim ataupun non-Muslim, karena kebaikan nilai-nilai itu sendiri, bukan karena nilai-nilai itu disebut ‎‎“Islami”. Dengan cara ini, Islam menjadi rahmat untuk alam semesta.

G. Pilih yang Mana?

Dua hal di atas menjadi suatu kontradiksi. Islamisasi Ilmu adalah menjadikan suatu ilmu menjadi subjektif dan menyeretnya ke dalam lingkaran nilai (?) Islam. Hal yang sangat sesuai jika kita memakai diktum ilmu taut nilai. Dengan Islamisasi Ilmu, maka yang terjadi adalah proses pemurnian ilmu dari westernian yang ia miliki, dengan tetap mempertahankan proses yang dianggap sesuai dengan epistemologi Islam.

Sementara objektifitas ilmu yang dituntut oleh Kuntowijoyo lewat pengilmuan Islamnya membuat baju dan atribut Islam yang melekat pada sistem, siyasiyah, dan objek lain harus dilepaskan. Nilai Islam menjadi baik bukan karena atribut Islamnya, akan tetapi karena kebaikan nilai itu sendiri. Ilmu pun dilepaskan dari label Islam, namun Islamlah yang ditarik dalam lingkaran keilmuan, sehingga kebaikan yang ditimbulkan oleh ilmu bukan karena label Islamnya, namun karena disesuaikannya Ilmu dengan nilai-nilai keIslaman.

Paradigma apa yang diambil jelas akan bersifat subjektif. Apakah subjektifitas Islamisasi Ilmu atau objektifitas pengilmuan Islam yang ingin dipakai tergantung dari bagaimana kita mengembangkan wacana dan dialektika mengenai hal tersebut. Bahkan mungkin dalam waktu ke depan, akan muncul teori baru yang merupakan perpaduan maupun integrasi dari keduanya.

Sumber Bacaan :

Rosadisastra, Andi, 2007, Metode Tafsir Ayat-Ayat Sains dan Sosial, Jakarta : Amzah
Nasution, Hidayat, 2007, Mukjizat Al-Qur’an versus Tahayul Iptek, Depok : Intuisi Press
Hanafi, Hasan, 2007, “Ambiguitas Pemikiran Ibnu Rusyd”, dalam Ibnu Rusyd, Gerbang Pencerahan Timur dan Barat, Zuhairi Miswari ‎‎(Ed), Jakarta : P3M
Badaruddin, Kemas, 2007, Filsafat Pendidikan Islam, Analisis Pemikiran al-Attas, Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Haque, Israrul, 2003, Menuju Renaissance Islam, Yogyakarta : Pustaka Pelajar
http://www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/14/1/pustaka-215.html
http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D3797DEA6587FD7!124.entry
http://filsafat-ilmu.blogspot.com/
http://www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/14/1/pustaka-218.html
http://blogs.unpad.ac.id/mumuhmz/2008/10/21/ilmu-pengetahuan-bahan-ii/
http://www.filsafat.ugm.ac.id/isi/view/164/111/
http://fai.elcom.umy.ac.id/mod/forum/discuss.php?d=88
http://islamlib.com/id/artikel/siapa-yang-rancu-para-filosof-atau-al-ghazali/
http://telagahikmah.org/id/index.php?option=com_content&task=view&id=93&Itemid=44
http://nasirsalo.blogspot.com/20‎‎08/04/tentang-islamisasi-ilmu-pengetahuan.html
http://khilafah1924.org/index.php?option=com_content&task=view&id=387&Itemid=53
http://rachmadr.web.ugm.ac.id/in/?p=20
http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_Sosial_Profetik
http://www.mindamadani.my




0 komentar:

Posting Komentar