A. Peradaban Barat dan Hegemoni
Epistemologi
Peradaban Barat telah menjadikan ilmu sebagai problematis.
Westernisasi ilmu telah menjadikan keraguan sebagai alat epistemologi yang sah
dalam keilmuan, menolak wahyu dan kepercayaan agama dalam ruang lingkup keilmuan dan
menjadikan spekulasi filosofis yang terkait dengan kehidupan sekular yang memusatkan
manusia sebagai makhluk rasional sebagai basis keilmuan. Akibatnya, peradaban Barat
telah menghasilkan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai
etika dan moral, yang diatur oleh rasio manusia, yang terus menerus berubah.
Ilmu pengetahuan modern yang dikembangkan Barat dibangun atas
dasar kegiatan empiris dan rasionalitas serta menolak
intuisi. Antara rasionalitas dan kegiatan empiris memang dapat dibedakan secara
definitif berdasarkan cara kerjanya. Namun pada tataran
praksis, dua hal tersebut keduanya
tidak dapat dipisahkan secara waktu dan cara kerjanya dikarenakan ada dua kemungkinanan,
rasio terlebih dahulu dan panca indra mengikuti atau sebaliknya.
Sedang intuisi adalah perasaan yang telah tersadarkan, yang mampu
mengintegrasikan antara subjek dan objek. Ia merupakan
akal (intelek/analitis) yang lebih tinggi
yang mampu memahami apa yang tidak difahami akal dengan bertumpu pada pengalaman
batin, mental, emosional dan spiritual.
Penolakan terhadap intuisi ini membuat ilmu pengetahuan modern ala
Barat bersifat materiil. Sehingga tepat jika sampai Syed Muhammad Naquib al-Attas
menyimpulkan ilmu pengetahuan modern yang dibangun di atas visi intelektual dan
psikologis budaya dan peradaban Barat dijiwai oleh 5 faktor: (1) akal diandalkan untuk membimbing
kehidupan manusia; (2) bersikap dualistik terhadap realitas dan kebenaran; (3) menegaskan
aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan
hidup sekuler; (4) membela doktrin humanisme semu; (5) menjadikan drama dan tragedi
sebagai unsur-unsur yang dominan dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan.
Namun tetap saja ada persamaan antara Islam dengan filsafat dan sains
modern yaitu menyangkut sumber dan metode ilmu, kesatuan cara mengetahui secara nalar
dan empiris, kombinasi realisme, idealisme dan pragmatisme sebagai fondasi kognitif
bagi filsafat sains; proses dan filsafat sains.
Walaupun sama, tapi tetap ada perbedaan mendasar dalam pandangan hidup
(divergent worldviews) mengenai realitas akhir. Dalam Islam, wahyu merupakan sumber ilmu
tentang realitas dan kebenaran akhir berkenaan dengan makhluk ciptaan dan Pencipta.
Wahyu adalah dasar kerangka metafisis untuk mengupas filsafat sains sebagai sebuah
sistem yang menggambarkan realitas dan kebenaran dari sudat pandang rasionalisme
dan empirisesme. Tanpa wahyu, ilmu sains dianggap satu-satunya pengetahuan
yang otentik (science is the sole authentic knowledge). dan hanya terkait dengan
fenomena. Akibatnya, kesimpulan kepada fenomena akan selalu relatif dan berubah sesuai
dengan perkembangan zaman.
Nilai-nilai yang ada dalam Islam adalah sepanjang masa. Jadi, Islam
memiliki pandangan-hidup mutlaknya sendiri, merangkumi
persoalan ketuhanan, kenabian, kebenaran,
alam semesta dll. Islam memiliki penafsiran ontologis, kosmologis dan psikologis
tersendiri terhadap hakikat. Islam menolak ide dekonsekrasi nilai karena merelatifkan
semua sistem akhlak.
Pandangan Barat tentang moralitas dan akhlak sendiri sangat
berbeda. Ambil contoh Sigmund Freud dengan teori bawah sadar dan super egonya. Beliau
berpendapat bahwa suara hati, moralitas dan akhlaq
tidak lain hanya superimposisi zalim yang
berdasarkan dorongan instinktual manusia. Implikasinya
adalah bagi Freud agama hanyalah
sebuah ilusi.
Perbedaan-perbedaan tentang cara memandang intuisi dan moralitas
inilah yang berimplikasi pada perbedaan mendasar Barat
dan Islam dalam hal ilmu pengetahuan.
Sikap relativitas dan anti humanitas ilmu pengetahuan Barat yang ditimbulkan
oleh 2 hal tersebut membuat ilmu pengetahuan seolah murni bebas nilai dengan memakai
jargon science for science.
Penampilan Barat yang dominatif, superior, sudah mengharu-biru hingga
pada aspek pendidikan dan kognitif kita. Pandangan epistemologi Barat yang bersifat sekularistik
tidak dapat dibendung. Ia masuk ke dalam pendidikan kita dari tingkat TK sampai
perguruan tinggi. Efek totalnya ialah kita tidak tahu khazanah keilmuan sendiri, termasuk
di dalamnya epistemologi Islam yang mengandung
elemen spiritualitas, tak hanya unsur rasionalitas ataupun empirisitas. Pada sisi lain
solusi guna menahan gelombang “Hellenisme modern” ini pun lebih banyak merujuk pada
sumber asing ketimbang sumber Islam. Padahal yang harus ditolak dari Barat adalah yang
tidak sesuai saja, bukan seluruhnya, berdasarkan
kaidah ushuliyyah, “Al-Muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadd al ashlah” (mempertahankan tradisi lama yang
baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik),
tetapi dengan tetap mempertimbangkan “Dar’u
al-mafasid awla min jalb al-ashalih” (menghindari kerusakan lebih utama daripada meraih
manfaat). Dalam dunia falsafah Islam madzhab Masysya’iyyah (Peripatetik) -dengan
para tokoh failasufnya al-Kindi
(Faylasuf al- Awwal), al-Farabi
(al-Mu‘allim al-Tsani), Ibn Sina (al-Syaykh al-Ra’is) dan seterusnya- merupakan bukti keterpengaruhan
Islam oleh Aristoteles, sementara Isyraqiyyah
(Illuminasi) -Syihab al-Din
Suhrawardi (Syaykh al-Isyraq,
Syaykh al-Maqtul), Ibn ‘Arabi
(Muhy al-Din, Syaykh al-Akbar, Khatam al-Awliya’), Khwajah
Nashr al-Din al-Thus, Mulla Shadra (Shadr al-Muta‘allih) dan lain-lain- cenderung
pada konsepsi Plato, yang semua fakta tentang failasuf ini menjelaskan manfaat unsur
asing terhadap kehidupan internal umat Islam.
B. Epistemologi Islam
Ilmu dalam Peradaban Barat telah mengangkat keraguan dan dugaan
ke tahap metodologi ilmiah. Epistemologi Barat telah menguasai seluruh metodologi keilmuan
yang ada. Dengan westernisasinya, paradigma keilmuan Barat akhirnya mendominasi
dan dijadikan sebuah tolok ukur suatu keilmiahan.
Bagaimana dengan Islam ? Dalam khazanah intelektual saat ini, tak jarang
ditemui kritik yang dilontarkan oleh sebagian orang terhadap Islam. Bahwasanya epistemologi
Islam saat ini sangat lemah. Komentar di atas sangat ironis jika dilihat dari realitas
sejarah peradaban dunia, justru Islamlah yang pertama
kali mencoba memajukan pengetahuan.
Dalam catatan sejarah sulit ditemukan fakta historis -rentang waktu dari Sebelum
Masehi hingga abad 8/9 Masehi- sebuah agama, ideologi,
apalagi isme yang mampu menyebarkan
pengetahuan secara lintas daerah dan negara, atau bahkan internasional (tidak parokial),
selain Islam.
Banyak diantaranya ilmu-ilmu pengetahuan yang dikembangkan:
ilmu-ilmu eksakta; fisika, kimia, berhitung, astronomi, geografi dan sebagainya,
ilmu-ilmu sosial; seperti sejarah, sosiologi, kalam dan seterusnya, hingga ilmu-ilmu metafisik;
sejenis falsafah, tasawuf, tarekat. Melihat fakta ini, bagaimana mungkin Islam dikatakan
kosong dari konsep epistemologi? Dan justru dunia Barat yang baru saja muncul ke permukaan
dalam pengetahuan sudah dibilang memiliki epistemologi tinggi.
Jika ditinjau dari segi “pengaruh-mempengaruhi”, kasus Yunani-Islam
mempunyai kesamaan dengan kasus antara Islam-Barat. Barat, melanjutkan tradisi ilmu setelah
saling bersentuhan. Dan anehnya, Islam selalu
diposisikan dalam tingkat terendah. Dari sini dapat ditarik sebuah pokok permasalahan,
sejarah dapat ditaklukkan oleh kekinian. Walhasil, negara-negara non-Barat
tersebut jatuh pada penilaian bahwa Barat muncul sebagai perintis ilmu pengetahuan.
Konsepsi kesinambungan ilmu sirna; seakan
ilmu pengetahuan tidak memiliki kesinambungan dari masa-masa sebelumnya, seakan Barat
bisa hidup dan berjalan tanpa Islam. Akibatnya, sumbangan Islam terhadap pengetahuan
tidak diperhitungkan biarpun muncul lebih
awal daripada Barat.
C. Sumber Ilmu dalam Islam
Menurut Adnin Armas, dalam pandangan Islam, ilmu adalah mungkin.
Jadi, pemikiran skeptisisme, relatifisme, agnotisisme tidaklah tepat. Selain itu,
ilmu dalam Islam tidak terlepas dari Wahyu. Ini disebabkan ilmu pengetahuan berasal
dari Tuhan, dan diraih melalui saluran-saluran sebagai
berikut:
I. Panca indera (hawass):
i. Panca indera
eksternal: sentuhan (touch), penciuman (smell), rasa (taste),
penglihatan (sight)
dan pendengaran (hearing)
ii. Panca indera
internal: akal sehat (common sense), representasi
(representation), estimasi
(estimation),
retention (retensi), rekoleksi (recollection) dan khayalan (imagination).
II. Riwayat benar (khabar sadiq) berdasar kepada otoritas (naql):
i. otoritas mutlak
(absolute authority)
a. otoritas Tuhan
(divine authority) seperti al-Quran
b. otoritas kenabian (prophetic authority), yaitu Nabi
ii. otoritas relatif
a. ijma para ulama
(tawatur)
b. riwayat
orang-orang yang amanah secara umum
III. Intelek (aql)
i. akal sehat (ratio)
ii. intuisi (hads,
wijdan).
Paparan Adnin di atas menunjukkan perbedaan antara epistemologi
Islam dan Barat terletak pada dimensi spiritualitas yang terletak pada saluran
imajinasi dan intuisi sehingga perlu disinggung
sedikit tentang dimensi spiritualitas Islam.
Dalam bahasa Arab kata spiritualitas adalah ruhaniyyah atau
ruhiyyah. Kedua kata tersebut berakar-kata dari ruh. Al-Quran menyebut kata ruh 21 kali
dalam surat berbeda, dan seluruhnya bermakna wahyu Tuhan. Salah satu ayat secara tegas
memiliki konsepsi ruh sebagai wahyu Tuhan, termaktub dalam QS. al-Isra’/17: 85, [Dan mereka
bertanya padamu ihwal wahyu Tuhan. Katakanlah, “Wahyu ini dari Tuhanmu, dan kamu
semata-mata diberikan pengetahuan amatlah sedikit”]. Mayoritas mufassir menginterpretasi
kata ruh di situ adalah wahyu Tuhan. Sementara digandengkannya term ruh dan ilmu
menunjukkan jalinan erat antara wahyu Tuhan dan pengetahuan. Dengan alasan inilah
bagi epistemologi Islam, wahyu merupakan salah satu sumber pengetahuan, yakni pengetahuan
datang dari Tuhan. Ini mengakibatkan macam-macam pengetahuan dalam Islam terbagi
dalam: 1) panca-indera (empirisme), 2) akal (rasionalisme) dan 3) intuisi/wahyu
(revelasionisme). Jenis ketiga merupakan ilmu pengetahuan yang diberikan kepada
para nabi an sich, tetapi dalam pandangan failasuf pengetahuan tersebut diperoleh para
nabi lantaran mereka memiliki akal-perolehan (al-‘aql al-mustafad, acquired intellect) di luar
rata-rata manusia umumnya.
Dapat ditarik suatu sintesis, bahwa perspektif epistemologi Islam
mengandung: 1) sumber pengetahuan, yang salah satunya adalah wahyu, dan 2) ilmu harus bertujuan
pada yang ruhaniah, dalam arti menghidupkan kesadaran bertuhan. Jika kedua butir
ini ternyata tidak dimiliki oleh mereka yang berilmu,
apa penyebabnya? Bahasa al-Qur’an menggunakan
istilah kufr, kafara, kafir berarti “menolak”, yaitu menolak kebenaran yang telah ia akui
sebagai kebenaran.
Berangkat dari kerangka berfikir Adnin Armas di atas, bahasan tentang
sains Islam dapat dikembangkan lebih lanjut.
D. Sains Islam?
Gagasan “sains Islam” sudah berada di percaturan intelektual Islam
selama lebih dari 20 tahun, di berbagai belahan dunia Muslim, termasuk Indonesia. Salah
satu tujuan “penciptaan” epistemologi Islam adalah
untuk “membangun sains yang berdaya guna
bagi kehidupan manusia dan kemanusiaan.” Sains Barat modern didasarkan pada epistemologi
Barat, maka epistemologi Islam—yang keberadaannya
sulit dipungkiri—sudah sewajarnyalah mampu melahirkan sains yang Islami.
Di sini, epistemologi dianggap sebagai dasar sains; epistemologi memiliki
prioritas (yaitu, keterdahuluan) baik secara konseptual maupun temporal. Namun
sejarah sains, baik di Barat mapun Islam, menunjukkan bahwa kaitan epistemologi dengan
sains tak serapi itu. Kaitan yang rapi hanya muncul dalam rekonstruksi rasional atas sejarah,
yang tak mesti mewakili gerak sejarah yang sebenarnya.
Nyatanya, sains kerap memiliki dinamikanya
sendiri. Sains berkembang bukan karena epistemologi yang baik, tapi justru
epistemologi kerap dipaksa menyesuaikan diri dengan temuan-temuan -dan kegagalan-kegagalan-
sains.
Ada dua hal yang perlu kita fahami jika kita berangkat dari “penciptaan”
epistemologi Islam menuju sains Islam. Yang pertama adalah Islamisasi Ilmu dan
yang kedua adalah Pengilmuan Islam.
E. Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan modern yang saat ini dihasilkan oleh peradaban
Barat tidak serta-merta harus diterapkan di dunia Muslim. Sebabnya, ilmu bukan bebas-nilai
(value-free), tetapi sarat nilai (value laden). Ilmu bisa dijadikan alat yang sangat halus
dan tajam bagi menyebarluaskan cara dan pandangan hidup sesuatu kebudayaan.
Dengan mendiagnosa virus yang terkandung dalam westernisasi ilmu,
Syed Muhammad Naquib al-Attas mencoba mengobatinya dengan Islamisasi ilmu. Alasannya,
tantangan terbesar yang dihadapi kaum Muslimin adalah ilmu pengetahuan modern yang
tidak netral dan telah diinfus ke dalam praduga-praduga agama, budaya dan filosofis,
yang sebenarnya berasal dari refleksi kesadaran dan pengalaman manusia Barat.
Jadi, ilmu pengetahuan modern harus diislamkan. Mengislamkan ilmu
bukanlah pekerjaan mudah seperti labelisasi. Selain
itu, tidak semua dari Barat berarti ditolak. Sebabnya, terdapat sejumlah persamaan
antara Islam dan filsafat dan sains Barat. Oleh sebab itu, seseorang yang mengislamkan
ilmu, ia perlu memenuhi pra-syarat, yaitu ia harus mampu mengidentifikasi pandangan-hidup
Islam (the Islamic worldview) sekaligus mampu memahami budaya dan peradaban
Barat. Pandangan-hidup dalam Islam adalah visi mengenai realitas dan kebenaran (the
vision of reality and truth).
Realitas dan kebenaran dalam Islam bukanlah semata-mata fikiran
tentang alam fisik dan keterlibatan manusia dalam sejarah, sosial, politik dan budaya sebagaimana
yang ada di dalam konsep Barat sekular mengenai dunia, yang dibatasi kepada dunia
yang dapat dilihat. Realitas dan kebenaran dimaknai berdasarkan kajian kepada metafisika
terhadap dunia yang nampak dan tidak nampak. Jadi, pandangan-hidup Islam mencakup
dunia dan akhirat, yang mana aspek dunia harus dihubungkan dengan cara yang sangat
mendalam kepada aspek akhirat, dan aspek akhirat memiliki signifikansi yang terakhir
dan final.
Setelah mengetahui secara mendalam mengenai pandangan-hidup
Islam dan Barat, maka proses Islamisasi baru bisa dilakukan. Sebabnya, Islamisasi ilmu
pengetahuan saat ini (the Islamization of present-day knowledge), melibatkan proses yang
saling terkait, yaitu :
Mengisolir unsur-unsur dan konsep-konsep kunci membentuk budaya
dan peradaban Barat (unsur yang telah disebutkan sebelumnya), dari setiap bidang ilmu
pengetahuan modern saat ini, khususnya dalam ilmu pengetahuan humaniora. Bagaimanapun,
ilmu-ilmu alam, fisika dan aplikasi harus diislamkan juga khususnya dalam penafsiran-penafsiran
akan fakta-fakta dan dalam formulasi teoriteori.
Selain itu, ilmu-ilmu modern harus diperiksa dengan teliti. Ini mencakup metode, konsep,
praduga, simbol, dari ilmu modern; beserta aspek-aspek empiris dan rasional, dan yang
berdampak kepada nilai dan etika; penafsiran
historisitas ilmu tersebut, bangunan teori ilmunya, praduganya berkaitan dengan dunia,
dan rasionalitas proses-proses ilmiah, teori ilmu
tersebut tentang alam semesta, klasifikasinya,
batasannya, hubung kaitnya dengan ilmu-ilmu lainnya serta hubungannya dengan
sosial harus diperiksa dengan teliti.
memasukkan unsur-unsur Islam beserta konsep-konsep kunci dalam
setiap bidang dari ilmu pengetahuan saat ini yang relevan. Jika kedua proses tersebut
selesai dilakukan, maka Islamisasi akan membebaskan manusia dari mitologi, animisme, tradisi
budaya nasional yang bertentangan dengan Islam, dan kemudian dari kontrol sekular kepada
akal dan bahasanya. Islamisasi akan membebaskan akal manusia dari keraguan) dugaan
dan argumentasi kosong menuju keyakinan akan kebenaran mengenai realitas spiritual,
intelligible dan materi. Islamisasi akan mengeluarkan penafsiran-penafsiran ilmu pengetahuan
kontemporer dari ideologi, makna dan ungkapan sekular.
F. Pengilmuan Islam
Secara harfiah, frasa “pengilmuan Islam” berarti menjadikan Islam sebagai
ilmu. Dari sini saja bisa muncul banyak pertanyaan. Pertama, perlu diperhatikan bahwa
ia tak hanya berbicara mengenai Islam sebagai sumber ilmu, atau etika Islam sebagai panduan
penerapan ilmu, misalnya. Tapi Islam itu sendiri yang merupakan ilmu. Dengan “pengilmuan
Islam”, yang ingin ditujunya adalah aspek universalitas klaim Islam sebagai rahmat
bagi alam semesta --bukan hanya bagi pribadi-pribadi atau masyarakat Muslim, tapi semua
orang; bahkan setiap makhluk di alam semesta ini. “Rahmat bagi alam semesta” adalah
tujuan akhir pengilmuan Islam. Rahmat itu dijanjikan bukan hanya untuk Muslim tapi untuk
semuanya. Tugas Muslim adalah mewujudkannya; pengilmuan Islam adalah caranya.
Secara lebih spesifik, Islam di-ilmu-kan dengan cara mengobjektifkannya.
Satu cara untuk memahami gerak “pengilmuan Islam” adalah dengan
memperhatikan periodisasi sistem pengetahuan Muslim yang dibuat Kuntowijoyo. Periodisasi
penting untuk memahami apa yang akan dikerjakan
pada suatu periode tertentu. Keputusan baik yang diambil di suatu periode belum tentu
akan bermanfaat di periode yang lain. Dalam
periodisasi ini, umat Islam bergerak dari periode pemahaman Islam sebagai mitos, lalu
sebagai ideologi, dan terakhir sebagai ilmu .
Pada periode pertama, Islam dipahami lebih sebagai mitos; sebagai
sesuatu yang sudah selesai dan tinggal perlu dipertahankan, dijaga kemurniannya
dari campuran-campuran non-islami, dan jika perlu dipertahankan dari serangan
pihak luar, dimana tradisi ini biasanya bersifat deklaratif atau apologetis.
Islam sebagai ideologi sudah bersifat lebih rasional, tapi masih terlalu
apriori/nonlogis. Di sini Islam ditampilkan sebagai ideologi tandingan bagi ideologi-ideologi
dunia seperti kapitalisme dan komunisme. Dalam bidang politik, ciri utama gerakan ini adalah
berdirinya organisasi-organisasi politik, dan ditandai
dengan gagasan pembentukan Negara
Islam. Islam eksis hanya jika ia eksis secara
institusional-formal. Karena itu, ketika di Indonesia semua ormas diharuskan
berasas Pancasila, ini dipahami sebagai upaya de-islamisasi. Padahal, ini juga bisa dilihat
sebagai isyarat bahwa Islam perlu memasuki babak baru, yaitu periode Islam sebagai ilmu.
Dalam periode ilmu, yang diperlukan adalah objektifikasi Islam.
Untuk mengambil contoh aktifitas dalam periode ini di bidang politik, yaitu para founding
fathers Indonesia yang Muslim, menghapuskan tujuh kata dari Piagam Jakarta amat berat
dilakukan, namun toh akhirnya dilakukan juga. Keputusan yang sama beratnya mesti
diambil ketika pada masa Orde Baru terjadi
marjinalisasi keterlibatan politik Muslim.
Dengan langkah-langkah tersebut, nilai-nilai Islami menjadi
sesuatu yang bisa diterima orang, Muslim ataupun non-Muslim, karena kebaikan nilai-nilai
itu sendiri, bukan karena nilai-nilai itu disebut “Islami”. Dengan cara ini, Islam menjadi
rahmat untuk alam semesta.
G. Pilih yang Mana?
Dua hal di atas menjadi suatu kontradiksi. Islamisasi Ilmu adalah
menjadikan suatu ilmu menjadi subjektif dan menyeretnya ke dalam lingkaran nilai
(?) Islam. Hal yang sangat sesuai jika kita memakai
diktum ilmu taut nilai. Dengan Islamisasi Ilmu, maka yang terjadi adalah proses
pemurnian ilmu dari westernian yang ia miliki, dengan tetap mempertahankan proses yang
dianggap sesuai dengan epistemologi Islam.
Sementara objektifitas ilmu yang dituntut oleh Kuntowijoyo lewat pengilmuan
Islamnya membuat baju dan atribut Islam yang melekat pada sistem, siyasiyah, dan
objek lain harus dilepaskan. Nilai Islam menjadi baik
bukan karena atribut Islamnya, akan tetapi
karena kebaikan nilai itu sendiri. Ilmu pun dilepaskan
dari label Islam, namun Islamlah yang ditarik dalam lingkaran keilmuan, sehingga
kebaikan yang ditimbulkan oleh ilmu bukan karena label Islamnya, namun karena
disesuaikannya Ilmu dengan nilai-nilai keIslaman.
Paradigma apa yang diambil jelas akan bersifat subjektif. Apakah subjektifitas
Islamisasi Ilmu atau objektifitas pengilmuan Islam yang ingin dipakai tergantung dari
bagaimana kita mengembangkan wacana dan dialektika mengenai hal tersebut. Bahkan
mungkin dalam waktu ke depan, akan muncul teori baru yang merupakan perpaduan maupun
integrasi dari keduanya.
Sumber Bacaan :
Rosadisastra, Andi, 2007, Metode Tafsir Ayat-Ayat Sains dan Sosial, Jakarta
: Amzah
Nasution, Hidayat, 2007, Mukjizat Al-Qur’an versus Tahayul Iptek, Depok
: Intuisi Press
Hanafi, Hasan, 2007, “Ambiguitas Pemikiran Ibnu Rusyd”, dalam Ibnu
Rusyd, Gerbang Pencerahan Timur dan Barat, Zuhairi
Miswari (Ed), Jakarta : P3M
Badaruddin, Kemas, 2007, Filsafat Pendidikan Islam, Analisis
Pemikiran al-Attas, Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Haque, Israrul, 2003, Menuju Renaissance Islam, Yogyakarta : Pustaka
Pelajar
http://www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/14/1/pustaka-215.html
http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D3797DEA6587FD7!124.entry
http://filsafat-ilmu.blogspot.com/
http://www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/14/1/pustaka-218.html
http://blogs.unpad.ac.id/mumuhmz/2008/10/21/ilmu-pengetahuan-bahan-ii/
http://www.filsafat.ugm.ac.id/isi/view/164/111/
http://fai.elcom.umy.ac.id/mod/forum/discuss.php?d=88
http://islamlib.com/id/artikel/siapa-yang-rancu-para-filosof-atau-al-ghazali/
http://telagahikmah.org/id/index.php?option=com_content&task=view&id=93&Itemid=44
http://nasirsalo.blogspot.com/2008/04/tentang-islamisasi-ilmu-pengetahuan.html
http://khilafah1924.org/index.php?option=com_content&task=view&id=387&Itemid=53
http://rachmadr.web.ugm.ac.id/in/?p=20
http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_Sosial_Profetik
http://www.mindamadani.my

Tidak ada komentar:
Posting Komentar